Trimegah Bangun Persada

News Detail

3 Pakar Kelautan dan Nelayan Obi Menjawab: Produktivitas Perairan Pulau Obi Masih Terjaga

02 April 2023

TRIBUNNEWS.COM - Perairan pulau Obi diduga telah tercemar limbah logam berat. Khususnya di perairan sebelah barat pulau Obi, di mana terdapat aktivitas penambangan nikel. Namun, hasil penelitian mengungkapkan produktivitas perikanan di perairan yang secara administratif berada di Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara itu masih terjaga.

Beberapa tim survei ekologi perairan yang melakukan survei di perairan seputaran pulau Obi memberikan konfirmsi tentang produktivitas perairan sekitar pulau Obi.

Tim Napoleon yang diwakili Prof Dr Inneke Rumengan, mengatakan produktivitas perikanan di perairan pulau Obi, dalam hal keragaman ikan-ikan karang, plankton dan makrobentos masih menunjukkan kondisi perairan yang produktif, khas perairan tropis pada umumnya. Dalam kurun waktu tahun 2015 hingga 2021 menunjukkan kondisi komunitas biota laut yang stabil, tidak ada tren penurunan. 

“Tim kami mengamati langsung dengan menyelam, mengamati jenis-jenis ikan yang ada di sana. Dari tahun ke tahun, trennya relatif sama. Merujuk ke ikan-ikan terumbu karang, cenderung ada sedikit peningkatan, baik dalam jumlah maupun jenisnya pada tahun 2020-2021,” kata Prof Inneke.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan Inneke bersama tim, pihaknya menemukan berbagai varian ikan, baik jenis ikan permukaan (pelagis) maupun ikan dasar (demersal). Menurutnya, jenis ikan pelagis dan demersal dari ukuran kecil sampai besar keberadaannya masih melimpah di perairan Pulau Obi.

Dia mencontohkan jenis ikan pelagis besar yang ada di perairan Obi, seperti cakalang (Katsuwonus pelamis), tongkol batik (Euthynnus affinis) sampai yang lebih besar lagi tuna (Thunnus spp). Sedangkan ikan demersal untuk konsumsi, seperti kerapu (Serranidae), kerapu tikus (Cromileptes altivelis), dan kakap (Lutjanus).

Lebih lanjut Inneke menjelaskan, produktivitas perikanan ditunjang oleh keberadaan plankton. Posisi plankton dalam mata rantai makanan organisme di laut sangat strategis. Plankton sebagai produsen bahan-bahan organik yang dibutuhkan organisme lain, menjadi penopang bagi kehidupan biologi laut yang ada di atasnya termasuk ikan.

“Data kami dalam hal plankton yang kami amati dari tahun ke tahun, dalam hal kelimpahan maupun indeks biologi, menunjukkan kondisi perairan cukup produktif. Jika plankton banyak, organisme pemangsanya juga akan banyak. Dan plankton itu menjadi makanan ikan,” terang Prof Inneke, yang juga mengajar mata kuliah Planktonologi di Fakultas Perikanan dan Kelautan di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Dalam kurun waktu 6 tahun itu, timnya melakukan pengamatan secara periodik di 29 titik. Salah satunya di perairan Kawasi yang berada di sebelah barat pulau Obi. Hasil pengamatannya jika dirata-rata dari tahun ke tahun, produktivitas perikanan di perairan Obi masih relatif sama.  

Terkait jumlah hasil tangkapan ikan nelayan, biasanya fluktuatif dari waktu ke waktu, tergantung alat tangkap yang digunakan dan musim angin, sehingga menurutnya belum tepat dijadikan patokan untuk mengukur produktivitas sebuah perairan.

“Kalau melihat data penangkapan, belum tentu seperti itu, karena yang ada belum tentu tertangkap semua. Tergantung musim dan alat tangkap yang digunakan. Jadi penelitian kami (terkait potensi perikanan di Obi, red) lebih akurat karena kami mengamati secara langsung,” terangnya.

Selain melakukan penelitian langsung, timnya juga melakukan penelitian survei dengan mewawancarai para nelayan di sejumlah desa di Pulau Obi. Informasi yang digali mencakup jenis ikan yang ditangkap, peralatan yang digunakan, hingga digunakan untuk apa ikan tangkapannya itu.

“Nelayan di Kawasi menangkap ikan untuk konsumsi sendiri, atau hobi. Kalaupun berlebih untuk dijual di penampung setempat. Jumlah nelayan sudah berkurang karena sebagian besar telah bekerja di perusahaan yang ada di sana,” papar Prof Inneke, menjelaskan hasil penelitian survei yang dilakukan di Desa Kawasi yang berada di desa lingkar tambang Harita Nickel.

Tim survei lain yang dipimpin Dr M Janib Achmad, pakar ilmu kelautan dari Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, juga mengungkap perairan Pulau Obi secara keseluruhan merupakan perairan yang subur karena memiliki klorofil yang melimpah. Dengan produktivitas yang masih terjaga, masyarakat setempat hingga kini tetap memilih menjadi nelayan.

“Di Obi itu perairannya subur karena klorofilnya melimpah, sehingga nelayan tetap menjadi nelayan,” jelas Janib Achmad, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Unkhair.

Temuan itu sebagaimana diilustrasikan dalam studi “Fish Basket Survey di Desa Kawasi dan Desa Soligi, Pulau Obi” yang dilakukan pihaknya pada tahun 2022 lalu.  Hasil studi atas survei di dua desa lingkar tambang Harita Nickel itu menjelaskan bahwa sebaran dengan konsentrasi klorofil a tertinggi berada di bagian utara Pulau Obi, di mana suhu permukaan relatif hangat dan membuat nelayan pulau obi semakin meningkat juga.

Fenomena Arlindo di Perairan Obi

Produktivitas perikanan di perairan Obi dipengaruhi oleh faktor oseanografi. Perairan ini merupakan jalur pertemuan antara samudera Pasifik dan samudera Hindia. Pertemuan dua samudera besar tersebut dikenal dengan Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Demikian disampaikan Prof Denny Nugroho Sugianto, pakar kelautan pada Departemen Oseanografi Universitas Diponegoro Semarang.

Secara lebih rinci, Prof Denny menerangkan jalur Arlindo di perairan Obi. Menurutnya, Arlindo melewati bagian utara Obi melalui utara Pulau Bisa, bagian barat Obi, dan bagian selatan melalui selatan Pulau Gamumu. Hal itu yang membuat produktivitas perairan Pulau Obi sangat tinggi.

Menurut Prof Denny, produktivitas perairan Pulau Obi terlihat dari jumlah ikan pelagis di wilayah itu. “Keberadan ikan tersebut membawa dampak positif untuk keberlangsungan produktivitas perikanan di Indonesia,” tegasnya.

“Produktivitas primer suatu perairan erat kaitannya dengan kondisi oseanografi yang membawa nutrisi untuk pertumbuhan fitoplankton di dekat permukaan laut, sehingga memperkaya biomassa di kawasan tersebut,” kata Prof Denny, yang pernah melakukan penelitian di perairan Obi tersebut.

Lebih lanjut disampaikan, Arlindo merupakan pergerakan massa air dari Samudera Pasifik menuju Samudera Hindia yang membawa dampak positif bagi perairan yang dilalui. Pertemuan arus dua samudera itu menjadi media migrasi ikan pelagis berukuran besar, seperti tuna dan cakalang. Ikan pelagis bernilai ekonomis tinggi tersebut akan banyak dijumpai di sekitar perairan yang dilalui Arlindo.

Hanya saja, untuk menikmati kelimpahan produktivitas perikanan di jalur Arlindo yang ada di perairan Obi dibutuhkan peralatan yang memadai. Karena Arlindo berada di lepas pantai (offshore), sehingga dibutuhkan armada dan peralatan tangkap yang mendukung.

“Kalau di sekitaran pantai, itu yang dimanfaatkan oleh nelayan kecil. Tapi kalau kita mau bicara yang besar potensinya, ya offshore. Indonesia bagian timur itu memang lumbung ikan, karena ada proses oseanografi,” ungkapnya, berpesan agar potensi kekayaan laut itu dapat terus dijaga.

Nelayan Lokal Masih Tetap Mencari Ikan di Perairan Kawasi

Hasil penelitian para pakar kelautan tersebut diamini oleh nelayan lokal di Desa Kawasi. Saidi Jouronga (58 tahun) mengatakan ikan di perairan Kawasi masih melimpah. Dia mengaku hingga hari ini masih mencari ikan di perairan yang berada di sekitar operasional Harita Nickel, perusahaan tambang dan hilirasi nikel yang telah beroperasi sejak tahun 2010.

“Saya cari ikan di dekat-dekat sini saja. Dari Kawasi sampai Akelamo. Kalau ikan-ikan yang besar seperti Tuna dan Cakalang memang harus ke tengah laut. Tapi kalau terlalu ke tengah, lautnya dalam dan ombak juga besar. Saya juga pikir keselamatan,” ungkapnya.

Menggunakan peralatan tradisional berupa pancing, hasil tangkapan ikan setiap hari antara 20-30 kilogram. Jenis ikannya pun beragam. Dari Giant Trevally atau warga lokal menyebutnya Bobara, Kerapu, Kakap Merah hingga cumi-cumi. Ikan tangkapannya dia jual di penampung lokal dengan harga berkisar antara Rp40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram.

“Jadi kalau ada yang bilang di laut Kawasi tidak ada ikan, atau kalau pun ada ikannya tidak mau makan karena airnya kotor, itu bohong besar. Saya lahir di Kawasi, sehari-hari mencari ikan di sini sampai hari ini, jadi saya tahu persis,” tegas Saidi.

Senada, Hut Ibrahim (60 tahun) warga Desa Kawasi yang juga berprofesi sebagai nelayan, mengaku hingga saat ini masih melaut di perairan Kawasi. Seperti Saidi, Ibrahim mencari ikan dengan peralatan tradisonal. Dari hasilnya melaut dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.


*Sumber: Tribunnews.com

Go Top