28 August 2025
Di tengah rindangnya hutan Pulau Obi, Maluku Utara, termasuk area bekas tambang Harita Nickel yang telah direklamasi, langkah kaki Niksen Tindatu kini membawa pesan baru. Dulu, langkah itu mengarah pada perburuan kuskus atau burung. Kini, setiap langkahnya memastikan satwa-satwa itu tetap bebas, tetap hidup di habitatnya.
Pria asal Tobelo ini bergabung dengan Harita Nickel pada 2016 sebagai kru penanaman dan perawatan taman di Departemen Human Resource & General Affairs (HRGA) PT Megah Surya Pertiwi, salah satu unit bisnis Harita Nickel. Dua tahun kemudian, ia pindah ke Departemen Health, Safety, and Environment (HSE), langkah kecil yang memulai perjalanan besar dalam hidupnya.
“Sebelum masuk Harita Nickel, saya berburu untuk makan, untuk dijual, supaya keluarga bisa bertahan. Saya tidak tahu kalau satwa-satwa itu dilindungi,” kenang Niksen.
Bergabung dengan tim Environment mengubah cara pandangnya. Hutan bukan lagi sekadar ladang berburu, melainkan rumah bagi makhluk-makhluk yang terancam punah. Perubahan itu tidak terjadi seketika. Niksen mengaku sempat dilanda pergolakan batin. Setiap kali menangkap satwa, ia dihadapkan pada pilihan: menjualnya untuk uang, atau melepasnya demi masa depan.
Menurut Agung Sunardi Munim, HSE Supervisor Harita Nickel, latar belakang Niksen sebagai pemburu justru menjadi keunggulan. “Dia tahu persis keberadaan satwa. Awalnya berat bagi dia melepas satwa, tapi sekarang dia menjadi garda depan melawan perburuan liar,” ujarnya.
Kini, Niksen tidak hanya berhenti berburu, tapi juga aktif mendukung inisiatif perusahaan dalam upaya melestarikan satwa endemik. Ia ikut melakukan pemantauan kuskus Obi (Phalanger rothschildi) dan soa layar (Hydrosaurus weberi), dua satwa endemik yang hanya bisa ditemukan di wilayah ini.
Transformasi ini mencerminkan upaya lebih luas Harita Nickel dalam menjaga keanekaragaman hayati Pulau Obi. Perusahaan melakukan pemantauan rutin, pemulihan habitat, hingga edukasi masyarakat. Sejak kuartal kedua 2025, tim konservasi rutin memberikan materi pelestarian satwa endemik kepada siswa di Desa Kawasi dan Soligi. Hingga kini, 90 siswa TK dan SD telah belajar mengenal satwa di sekitar mereka.
Sephy Noerfahmy, Conservation Superintendent Harita Nickel, menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci. “Kisah Pak Niksen adalah bukti, bahwa memberi pengetahuan bisa mengubah pemburu menjadi pelindung,” ujarnya.
Kini, setiap kali Niksen masuk hutan, ia tidak lagi membawa senapan. Di tangannya ada senter dan buku catatan, mencari jejak satwa yang dulu ia buru. Bukan untuk diburu, tetapi untuk dipastikan tetap ada. Ia tahu, di setiap pohon yang rimbun dan suara malam yang berbisik, tersimpan masa depan Pulau Obi yang ingin ia wariskan, bagi generasi mendatang.
Go Top