(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Sejarah Nikel: Dari Logam yang Diremehkan jadi Komoditas Paling Dicari

Kategori

:
Ragam.

31 Juli 2026 | Admin

detail

Saat ini nikel dikenal sebagai salah satu komoditas strategis dunia. Logam ini menjadi bahan baku penting untuk stainless steel, berbagai produk industri, hingga baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) yang mendukung transisi menuju energi yang lebih bersih.

Namun, siapa sangka bahwa ratusan tahun lalu nikel justru dianggap sebagai logam yang tidak memiliki nilai. Bahkan, para penambang di Eropa sempat menganggapnya sebagai "batu pengganggu" karena terlihat seperti bijih tembaga tetapi tidak dapat menghasilkan tembaga sama sekali.

Lalu bagaimana perjalanan nikel hingga menjadi salah satu mineral paling dibutuhkan saat ini? Artikel ini akan membahas bagaimana perjalanan nikel dari logam yang diremehkan menjadi salah satu mineral penting untuk bahan baku baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat. 

Disangka Tembaga, Berujung Disebut “Tembaga Setan”

Sejarah nikel dimulai jauh sebelum logam ini berhasil diisolasi. Pada abad ke-17, para penambang di wilayah Saxony, Jerman, menemukan batuan berwarna kemerahan yang sangat mirip dengan bijih tembaga. Mereka pun mencoba mengekstraknya untuk mendapatkan tembaga, tapi hasilnya nihil.

Karena gagal dan merasa “ditipu”, para penambang menyalahkan roh jahat yang dalam mitologi Saxon disebut Nickel, semacam sebutan setempat untuk sosok jahat semacam setan. Bijih itu lantas dijuluki kupfernickel, yang secara harfiah berarti “tembaga setan”. Nama itulah yang kemudian menjadi akar dari kata nickel atau nikel yang kita kenal saat ini.

Satu Abad Kemudian, Identitasnya Baru Terungkap

Identitas asli kupfernickel baru terungkap hampir satu abad kemudian. Pada 1751, ahli kimia asal Swedia, Axel Fredrik Cronstedt, meneliti mineral dari sebuah tambang di Halsingland, Swedia. Ia memanaskan bijih tersebut dengan arang dan menemukan bahwa kandungannya sama sekali bukan tembaga, melainkan logam baru dengan sifat-sifat yang berbeda.

Cronstedt kemudian dikenal sebagai orang pertama yang berhasil mengisolasi nikel sebagai elemen kimia tersendiri. Ia mengambil nama nickel dari potongan nama kupfernickel. Namun, identifikasi awal itu belum sepenuhnya tuntas. Sifat kimiawi nikel baru benar-benar dikonfirmasi setelah ahli kimia lain, Torbern Bergman, berhasil memproduksi nikel murni pada 1775.

Dari Mineral “Aneh” Jadi Bahan Koin

Setelah identitasnya jelas, nikel tidak langsung jadi logam populer. Butuh waktu lebih dari satu abad lagi sampai nikel benar-benar dapat dimanfaatkan secara massal. Salah satu titik baliknya terjadi pada 1860-an, ketika Amerika Serikat mulai mencetak koin berbahan nikel. Menurut catatan Smithsonian Magazine, pemilihan nikel sebagai bahan koin saat itu didorong oleh ketersediaannya yang melimpah, di tengah kelangkaan logam lain yang biasa dipakai untuk uang koin.

Sejak itu, nikel mulai dilihat sebagai logam dengan kegunaan praktis, bukan sekadar mineral aneh yang sulit diolah. Kepercayaan terhadap nikel pun perlahan terbangun, terutama karena sifatnya yang tahan karat dan cukup kuat untuk dipadukan dengan logam lain.

Titik Balik: Lahirnya Baja Tahan Karat

Lompatan besar terjadi pada awal abad ke-20. Pada 1912, ilmuwan asal Inggris, Harry Brearley, menemukan baja tahan karat atau stainless steel, dan nikel menjadi salah satu bahan campuran utamanya. Kombinasi besi, krom, dan nikel ini menghasilkan logam yang kuat, tahan panas, sekaligus tahan korosi, jauh lebih unggul dibanding besi biasa.

Sejak penemuan itu, permintaan nikel mulai naik signifikan.Bahkan hingga hari ini, sebagian besar produksi nikel dunia masih diarahkan untuk industri baja tahan karat, yang dipakai mulai dari peralatan dapur, konstruksi, sampai komponen industri berat.

Baca Juga: Apa Itu Feronikel: Produk di Balik Kuatnya Stainless Steel!

Nikel Mulai Ditemukan di Bumi Nusantara

Sementara Eropa sibuk meneliti dan memanfaatkan nikel, di sisi lain dunia, tepatnya di Indonesia, endapan nikel justru belum banyak diketahui. Catatan sejarah menyebutkan, bijih nikel pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang misionaris asal Belanda, Albertus Christiaan Kruyt, pada 1901 di kawasan Pegunungan Verbeek, perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan.

Penemuan itu disusul oleh insinyur tambang Eduard Cornelius Abendanon yang menemukan bijih nikel di Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, pada 1909. Dua penemuan inilah yang membuka jalan bagi eksplorasi nikel secara lebih serius di Nusantara. Beberapa perusahaan asal Belanda, seperti Oost Borneo Maatschappij dan Bone Tole Maatschappij, mulai melakukan eksplorasi di Sulawesi pada dekade-dekade berikutnya.

Perjalanan awal industri nikel Indonesia juga tidak mulus. Sempat ada upaya membangun pabrik pengolahan nikel di Pomalaa pada masa pendudukan Jepang, namun kandas karena fasilitasnya hancur dibom Sekutu saat Perang Dunia II. Setelah kemerdekaan, pemerintah perlahan mengambil alih kendali atas tambang-tambang nikel di Sulawesi, dan eksplorasi lebih lanjut baru benar-benar dimulai pada akhir 1960-an. 

Memasuki Era Baterai dan Kendaraan Listrik

Nasib nikel kembali berubah besar pada penghujung abad ke-20. Sifatnya yang mampu menyimpan energi dengan baik membuat nikel mulai dilirik sebagai bahan baku baterai, dimulai dari baterai nikel-kadmium (NiCd) dan nikel-metal hidrida (NiMH). Dari titik inilah nikel mulai bergeser dari sekadar “bahan campuran logam” menjadi komponen penting di industri energi.

Pergeseran itu makin terasa ketika industri kendaraan listrik mulai tumbuh pesat. Baterai berbasis nikel, seperti jenis NMC (nickel-manganese-cobalt) dan NCA (nickel-cobalt-aluminium), kini menjadi dua jenis baterai yang paling banyak dipakai untuk kendaraan listrik karena kemampuannya menyimpan energi dalam jumlah besar. Sejak saat itu, nikel tidak lagi sekadar logam industri konstruksi, melainkan juga komoditas strategis di balik transisi energi dunia.

Indonesia Naik Kelas Jadi Pemain Utama Dunia

Lonjakan permintaan nikel global membawa angin segar bagi Indonesia. Dengan cadangan nikel yang menjadi yang terbesar di dunia, pemerintah mulai mendorong kebijakan hilirisasi, salah satunya lewat pembatasan ekspor bijih nikel mentah, agar nilai tambah pengolahannya bisa dinikmati di dalam negeri. Kebijakan ini membuka jalan bagi pembangunan smelter di berbagai wilayah penghasil nikel, termasuk di kawasan Indonesia timur seperti Sulawesi dan Maluku Utara.

Dari logam yang sempat disangka tidak berguna, yang kemudian dijuluki sebagai “tembaga setan”, hingga akhirnya dipercaya sebagai salah satu bahan baku paling vital di era kendaraan listrik, perjalanan nikel membuktikan satu hal: nilai sebuah sumber daya tidak selalu terlihat di awal. Kadang butuh waktu, riset, dan perubahan zaman untuk benar-benar bisa memahami potensinya, sama seperti yang terjadi pada nikel selama lebih dari tiga abad terakhir.