Informasi Terbaru Harita Nickel atas Sejumlah Isu di Desa Kawasi, Pulau Obi

Kategori

:
Hak Jawab.

03 Agustus 2026 | Admin

detail

Menanggapi sejumlah publikasi dan pertanyaan dari media, warga, dan organisasi masyarakat sipil mengenai kondisi lingkungan dan sosial di Desa Kawasi, Pulau Obi, Harita Nickel ingin menyampaikan penjelasan atas beberapa isu yang mengemuka, sebagai bagian dari komitmen kami terhadap keterbukaan informasi dan proses sertifikasi Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) yang sedang berlangsung.

Mengenai pengelolaan air dan kondisi perubahan iklim di Pulau Obi

Terkait kualitas air di wilayah operasional Harita Nickel, kami telah menjalankan praktik yang sesuai dengan regulasi pemerintah, dimana kualitas air dipantau otomatis melalui sistem SPARING (KLH). Data dari alat pemantau dikirim langsung ke pusat data pemerintah, sehingga memastikan dapat diaudit sewaktu-waktu. Harita Nickel juga secara berkala melakukan pengujian kualitas air melalui laboratorium independen. Selain itu kami juga membuka diri bagi para akademisi dan pihak independen lainnya untuk melakukan observasi dan kajian yang relevan dalam hal ini. Sebagai bagian dari upaya memperkuat akses air bersih bagi warga, kami membangun fasilitas pengolahan air dengan teknologi Reverse Osmosis (RO) di Kawasi berkapasitas sekitar 40 meter kubik per hari, dengan sistem filtrasi dan ozonisasi untuk menjaga keamanan air dari sisi mikrobiologis dan kimiawi, yang ditargetkan beroperasi penuh pada paruh kedua 2026.

Harita Nickel juga menyadari perubahan iklim yang terjadi pada beberapa waktu belakangan, di mana hasil pemantauan curah hujan di lima stasiun pengamatan yang telah disiapkan perusahaan menyatakan curah hujan pada saat-saat tertentu melebihi 100 mm per hari atau termasuk kategori sangat lebat. Bahkan ada satu titik mencapai 182 mm per hari yang masuk kriteria hujan ekstrim sehingga menyebabkan banjir pada pertengahan tahun 2023. Selama musim hujan ekstrem yang melanda banyak wilayah di Maluku Utara belum lama ini, kami turut berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta menyalurkan bantuan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan kepada warga terdampak di sejumlah desa, termasuk Kawasi. Selain itu, perusahaan juga telah melakukan upaya penanggulangan. Selain membuatkan tanggul, perusahaan juga telah membuat kolam pengendapan dan pelebaran aliran Todoku yang semula 5-7 meter menjadi 17-20 meter.

Selain kolam sedimentasi, manajemen tailing juga merupakan bagian penting dari pertambangan yang bertanggung jawab. Dalam proses HPAL (High Pressure Acid Leach) kami, Harita Nickel menerapkan metodologi paten yang dikembangkan oleh mitra teknis kami untuk mengurangi pembentukan kromium-6.

Dalam mengelola Sisa Hasil Pengolahan (SHP), Perusahaan mengadopsi prinsip ekonomi sirkular dengan menempatkan efisiensi sumber daya dan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama yang saling terintegrasi. Pendekatan ini merefleksikan komitmen kami untuk bertransisi dari model ekonomi linear (ambil-olah-buang) menuju sistem yang lebih berkelanjutan, dengan mengurangi jumlah timbulan limbah, mengoptimalkan pemanfaatan kembali sumber daya, serta meminimalkan dampak terhadap lingkungan.

Di seluruh area operasional, SHP yang dihasilkan dari proses pengolahan nikel, baik melalui smelter RKEF maupun refinery HPAL, dikelola secara bertanggung jawab dengan penempatan di darat (tanpa pembuangan ke laut). Pemanfaatan lubang bekas tambang sebagai fasilitas penempatan menjadi solusi yang tidak hanya aman, tetapi juga mendukung optimalisasi tata kelola lahan secara berkelanjutan.

Penting untuk digarisbawahi bahwa tidak ada saluran drainase, kolam sedimentasi, ataupun saluran pembuangan yang bersinggungan dengan sumber air minum alami. Prinsip pemisahan ini mencerminkan komitmen kami untuk memastikan bahwa infrastruktur yang dirancang untuk pertambangan tidak pernah kompromi dengan sistem sumber daya air masyarakat.

Mengenai kondisi masyarakat di Pulau Obi

Harita Nickel terus mendukung program relokasi ke permukiman baru Desa Kawasi yang merupakan bagian dari inisiatif yang dicetuskan oleh pemerintah daerah Kabupaten Halmahera Selatan. Dalam pengembangannya perusahaan juga turut melibatkan pihak-pihak yang memiliki keahlian yang relevan untuk turut memantau, mengevaluasi dan memberi masukan.

Selain hunian, kawasan itu dilengkapi dengan fasilitas pendidikan, kesehatan, rumah ibadah, gedung serbaguna, lapangan sepak bola, hingga area komersial yang berada dalam satu kawasan sehingga memudahkan mobilitas rutin masyarakat. Jalan lingkungan yang sebelumnya berupa tanah kini telah dibeton sehingga mengurangi genangan saat musim hujan dan debu pada musim kemarau. Warga juga menikmati layanan listrik dan air bersih selama 24 jam. Di sisi pengelolaan lingkungan, kawasan ini memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang mengolah sampah rumah tangga menjadi pupuk untuk mendukung sektor pertanian warga.

Harita Nickel juga terus memperhatikan kehidupan masyarakat di permukiman lama Desa Kawasi, dengan terus memberi dukungan sumber listrik pada Pulau Obi yang belum mendapatkan ketersediaan listrik dari pemerintah melalui layanan PLN. Harita Nickel baru-baru ini juga menyediakan satu unit genset tambahan berkapasitas 250 KVA dan satu unit genset lainnya berkapasitas 200 KVA sebagai langkah antisipatif guna memastikan kebutuhan listrik warga tetap terpenuhi.

Baru-baru ini, warga permukiman baru Desa Kawasi juga telah memperoleh kepastian hukum atas kepemilikan lahan terealisasi di mana Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan telah menyerahkan sertifikat hak milik atas tanah kepada warga, yang diserahkan oleh Kepala Dinas Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Halmahera Selatan.

Selain hunian, Harita Nickel juga menyadari pentingnya keberlanjutan ekosistem laut Obi bagi mata pencaharian nelayan setempat dan tetap membuka ruang dialog untuk memahami keluhan yang disampaikan. Dari tahun ke tahun, Harita Nickel terus mendukung kegiatan lokal Obi Fishing Tournament di perairan Desa Kawasi sebagai sarana silaturahmi dan ruang kolaborasi lintas pihak dengan masyarakat dan pemerintah, dimana Pada tahun 2025 lalu jumlah tangkapan ikan yang dihasilkan sepanjang kegiatan cukup melimpah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Untuk mendukung para nelayan di Desa Kawasi, Harita Nickel juga membangun infrastruktur pemecah gelombang (breakwater) sejak tahun 2022-2023 dan disempurnakan kembali pada tahun 2026. Infrastruktur tersebut sebagai upaya perusahaan mengurangi abrasi pantai, mengendalikan sedimentasi di muara, serta menjaga akses keluar masuk perahu nelayan agar lebih aman.

Selama beberapa tahun terakhir, perusahaan juga telah melakukan health impact assessment dan beberapa kegiatan tindak lanjut dengan kolaborasi lintas pihak. Temuan dari proses ini menegaskan bahwa akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar menjadi salah satu perhatian utama dalam kehidupan masyarakat. Menjawab kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang layak, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mengambil langkah sinergis dengan Harita Nickel melalui pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Kawasi, Pulau Obi. Pembangunan Pustu ini melengkapi keberadaan Pos Bersalin Desa (Polindes) yang telah lebih dulu beroperasi di desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan seperti Kawasi (permukiman lama), Soligi, Ocimalolaeo, dan Gambaru, sehingga pelayanan tenaga kesehatan dan obat-obatan dapat diakses oleh seluruh masyarakat tanpa kecuali. 

Mengenai proses sertifikasi IRMA

Informasi terbaru mengenai proses sertifikasi IRMA dapat diakses pada situs resmi IRMA yang baru saja diperbarui pada tanggal 28 Juli 2026 yang lalu. Harita Nickel tetap berkomitmen pada dialog yang konstruktif dengan seluruh pemangku kepentingan, termasuk media, organisasi masyarakat sipil, dan warga Desa Kawasi, dan akan terus memperbarui informasi ini seiring berjalannya proses verifikasi dan audit.

Mengenai keterbukaan terhadap kunjungan media dan peneliti

Sebagai wujud nyata dari komitmen keterbukaan informasi, Harita Nickel secara konsisten membuka akses bagi media dan kalangan akademisi untuk melakukan peninjauan langsung ke wilayah operasional. Sejak 2024 hingga Juli 2026, perusahaan telah menerima lebih dari 100 kunjungan media, mencakup media internasional, nasional, dan lokal, serta sejumlah kunjungan dari institusi pendidikan, mahasiswa, peneliti, organisasi nirlaba dan lembaga penelitian untuk melakukan liputan, observasi, maupun kajian independen di Pulau Obi. Kami tetap membuka ruang yang sama bagi media atau peneliti yang ingin mengajukan permohonan kunjungan resmi, sebagai bagian dari upaya menjaga proses verifikasi yang transparan dan dapat diakses oleh publik