Saat ini, nikel menjadi salah satu mineral yang banyak dibutuhkan dalam berbagai industri. Mulai dari bahan baku campuran untuk stainless steel hingga menjadi bahan baku untuk rantai pasok baterai kendaraan listrik, nikel memiliki peran dalam berbagai produk yang digunakan sehari-hari.
Namun, sebelum bisa dimanfaatkan dalam berbagai produk, material ini harus melewati perjalanan yang cukup panjang. Prosesnya dimulai dari kegiatan pertambangan, pengolahan bijih, hingga menghasilkan produk antara yang kemudian dapat digunakan untuk kebutuhan industri.
Lalu, seperti apa sebenarnya perjalanan nikel dari mulai ditambang hingga diolah menjadi produk yang punya nilai guna tinggi? Pada artikel ini kita akan membahas perjalanan nikel mulai ditambang, diolah, hingga menjadi produk-produk yang dapat kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Mana Nikel Berasal?
Nikel bisa ditemukan di berbagai wilayah di dunia. Secara umum, nikel berasal dari dua jenis endapan, yaitu nikel laterit dan nikel sulfida. Nikel laterit terbentuk dari proses pelapukan batuan yang berlangsung dalam waktu yang panjang. Jenis nikel ini umumnya ditemukan di wilayah beriklim tropis, seperti Indonesia, Filipina, dan Kaledonia Baru. Sementara itu, nikel sulfida terbentuk dari endapan mineral yang mengandung sulfida dan banyak ditemukan di wilayah seperti Kanada, Australia, dan Rusia.
Di Indonesia, nikel yang banyak ditemukan adalah bijih nikel laterit.. Jenis nikel ini terbentuk dari proses pelapukan batuan yang berlangsung dalam waktu yang panjang. Kondisi alam Indonesia yang beriklim tropis turut mendukung proses tersebut.
Secara sederhana, bijih nikel laterit dapat ditemukan dalam beberapa lapisan. Dua jenis yang umum dibahas dalam pengolahan nikel adalah limonit dan saprolit. Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Karena itu, jenis bijih menjadi salah satu hal yang menentukan bagaimana material tersebut akan diproses selanjutnya.
Mengenal Bijih Nikel Limonit dan Saprolit
Bijih nikel limonit merupakan jenis bijih nikel yang umumnya ditemukan di bagian yang lebih dekat dengan permukaan tanah. Karakteristiknya ditandai dengan kandungan besi yang relatif tinggi, sementara kadar nikelnya lebih rendah jika dibandingkan dengan bijih nikel saprolit. Secara umum, bijih limonit memiliki kandungan nikel sekitar 0,8–1,5 persen.
Sementara itu, bijih nikel saprolit umumnya ditemukan pada bagian yang lebih dalam dibandingkan limonit dan memiliki kandungan nikel yang lebih tinggi. Secara umum, kadar nikelnya berada pada kisaran 1,5–3,0 persen. Saprolit juga memiliki karakteristik mineral yang berbeda dari limonit, dengan kandungan besi yang relatif lebih rendah. Secara visual, tanah yang mengandung bijih nikel limonit umumnya terlihat lebih gelap, sedangkan bijih nikel saprolit umumnya terlihat lebih terang.
Perbedaan karakteristik tersebut membuat kedua jenis bijih ini dapat membutuhkan teknologi pengolahan yang berbeda. Secara umum, saprolit dengan kadar nikel lebih tinggi banyak diolah melalui jalur pirometalurgi, yaitu proses pengolahan yang memanfaatkan panas atau temperatur tinggi untuk mengolah bijih menjadi produk seperti feronikel, nickel pig iron (NPI), atau nickel matte. Sementara itu, limonit dengan kadar nikel lebih rendah banyak diolah melalui jalur hidrometalurgi, yaitu proses yang memanfaatkan asam sulfat dan tekanan air untuk melarutkan dan mengambil kandungan logam dari bijih, salah satunya melalui teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Jadi, ketika mendengar istilah tambang nikel, prosesnya tidak hanya soal mengambil bijih dari dalam tanah. Karakteristik bijih yang berbeda juga menentukan bagaimana material tersebut dapat diolah lebih lanjut untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah.
Bagaimana Proses Penambangan Nikel?
Sebelum kegiatan penambangan dilakukan, diperlukan berbagai tahapan persiapan. Salah satunya adalah eksplorasi untuk mengetahui kondisi geologi, keberadaan mineral, serta karakteristik endapan di suatu area.
Setelah area dan karakteristik endapan diketahui, kegiatan di tambang nikel dapat dilakukan sesuai dengan perencanaan dan ketentuan yang berlaku.
Bijih nikel yang telah ditambang kemudian dipindahkan dan disiapkan untuk masuk ke tahap berikutnya, yaitu pengolahan.
Pada tahap ini, pemilahan berdasarkan karakteristik bijih menjadi penting. Limonit dan saprolit tidak serta-merta diproses dengan cara yang sama karena karakteristik mineraloginya berbeda.
Setelah Ditambang, Apa yang Terjadi pada Bijih Nikel?
Nah, di sinilah perjalanan nikel mulai masuk ke tahap pengolahan. Bijih hasil penambangan bukanlah produk akhir. Material tersebut perlu melalui serangkaian proses untuk mengambil kandungan nikel dan menghasilkan produk dengan spesifikasi yang sesuai kebutuhan industri.
Secara umum, pengolahan bijih nikel laterit dapat dilakukan melalui jalur pirometalurgi atau hidrometalurgi. Pirometalurgi menggunakan teknologi RKEF (Rotary Kiln Electric Furnace) yang memanfaatkan proses peleburan dengan api pada temperatur tinggi, sedangkan hidrometalurgi menggunakan Teknologi HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang menggunakan proses pemurnian dengan larutan tertentu untuk mengekstraksi logam dari bijih.
Mengenal Proses Pengolahan Bijih Nikel
Pengolahan Bijih Saprolit
Bijih saprolit dapat diolah melalui proses pirometalurgi menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Secara sederhana, bijih saprolit terlebih dahulu dipersiapkan dan dikeringkan. Setelah itu, material masuk ke rotary kiln untuk menjalani proses pengeringan dan reduksi pada temperatur tinggi.
Material kemudian masuk ke electric furnace sebuah wadah raksasa berbentuk silinder atau mangkuk. Di dalam proses ini, material dilebur sehingga kandungan nikel dan besi dapat diperoleh sebagai paduan feronikel (FeNi).
Feronikel kemudian dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam industri, khususnya untuk produksi stainless steel.
Pengolahan Bijih Limonit
Berbeda dengan saprolit, bijih limonit dapat diolah menggunakan jalur hidrometalurgi melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).
Pada proses HPAL, bijih dipersiapkan kemudian masuk ke dalam autoclave yang berfungsi seperti panci presto raksasa. Di dalamnya, bijih mengalami proses pelindian menggunakan asam pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi untuk melarutkan kandungan nikel dan kobalt.
Setelah melalui beberapa tahap pemisahan dan pemurnian, nikel dan kobalt kemudian dapat diendapkan menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
MHP sendiri merupakan produk antara yang dapat diproses lebih lanjut untuk menghasilkan bahan kimia nikel dan kobalt yang dibutuhkan dalam rantai pasok baterai. Kementerian ESDM juga menjelaskan MHP sebagai salah satu produk yang dapat dihasilkan dari pengolahan bijih nikel kadar rendah dan menjadi prekursor untuk produksi baterai.
Dari Bijih Nikel Menjadi Produk Nikel
Jadi, apa yang sebenarnya dihasilkan setelah bijih nikel melalui proses pengolahan?
Salah satunya adalah feronikel. Produk ini merupakan paduan nikel dan besi yang dapat digunakan dalam produksi stainless steel.
Selain itu, ada pula MHP yang mengandung nikel dan kobalt. Produk ini dapat menjadi bahan antara untuk diproses lebih lanjut menjadi berbagai bahan kimia yang dibutuhkan dalam industri baterai.
Dalam perkembangannya, rantai pengolahan nikel juga dapat menghasilkan produk turunan seperti nikel sulfat, kobalt sulfat, maupun elektrolitik kobalt
Artinya, perjalanan nikel tidak berhenti ketika bijih berhasil diambil dari tambang. Melalui proses pengolahan dan pemurnian, material tersebut dapat memiliki bentuk dan nilai tambah yang berbeda sesuai kebutuhan industri.
Untuk Apa Produk Nikel Digunakan?
Untuk Industri Stainless Steel
Salah satu penggunaan utama produk nikel adalah dalam industri stainless steel.
Nikel membantu memberikan karakteristik tertentu pada stainless steel, termasuk ketahanan terhadap korosi. Karena itu, produk berbasis stainless steel dapat ditemukan dalam berbagai kebutuhan industri maupun kehidupan sehari-hari.
Untuk Rantai Pasok Baterai
Nikel juga menjadi salah satu material yang digunakan dalam rantai pasok baterai.
Produk antara seperti MHP dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan material baterai. Inilah salah satu alasan mengapa pengolahan bijih nikel kadar rendah menjadi semakin penting dalam perkembangan industri baterai kendaraan listrik.
Selain stainless steel dan baterai, nikel dan produk turunannya dapat digunakan dalam berbagai aplikasi industri lainnya.
Melihat Perjalanan Nikel di Harita Nickel
Perjalanan dari bijih nikel hingga menjadi produk bernilai tambah juga berlangsung di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Melalui operasi yang terintegrasi, Harita Nickel menjalankan rangkaian kegiatan mulai dari penambangan, pengolahan, pemurnian, hingga menghasilkan berbagai produk nikel. Operasi tersebut mencakup pengolahan bijih saprolit melalui teknologi RKEF dan bijih limonit melalui teknologi HPAL.
Untuk bijih saprolit, proses RKEF menghasilkan feronikel yang digunakan untuk kebutuhan industri stainless steel. Sementara itu, bijih limonit diproses melalui HPAL untuk menghasilkan MHP, serta produk turunan seperti nikel sulfat dan kobalt sulfat yang berkaitan dengan rantai pasok bahan baterai.
Perjalanan nikel di Pulau Obi tidak hanya tentang bagaimana bijih diolah menjadi produk bernilai tambah. Dalam menjalankan operasionalnya, Harita Nickel juga menerapkan pendekatan pengolahan yang bertanggung jawab dengan memperhatikan berbagai aspek, mulai dari pengelolaan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, hingga hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.
Rangkaian ini menjadi bagian dari pengembangan ekosistem industri nikel dan hilirisasi di Indonesia, sekaligus upaya untuk menjalankan kegiatan pertambangan dan pengolahan secara bertanggung jawab.


