Di balik layar komputer yang menampilkan desain tambang, Yayu Inryani Sari memulai hari kerjanya sebagai Junior Mine Plan Engineer. Di PT Trimegah Bangun Persada (TBP), salah satu unit usaha pertambangan Harita Nickel, ia menganalisis data dan menyusun rencana penambangan yang menjadi acuan operasional di lapangan. Di luar pekerjaannya, ia juga menjalani peran yang tak kalah penting sebagai seorang ibu.
Setiap kali berangkat bekerja ke site, Yayu harus menempuh perjalanan panjang dari desa Seludau, Tana Tidung, Kalimantan Utara menuju Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Perjalanan yang menghubungkan darat, laut, dan udara itu menjadi pengingat bahwa setiap langkah yang ditempuh merupakan bagian dari perjuangan mewujudkan cita-citanya di industri pertambangan sekaligus memberikan masa depan yang lebih baik bagi keluarganya.
Bagi Yayu, kedua peran tersebut tidak pernah saling bertentangan. Menjadi ibu bukan alasan untuk meninggalkan cita-citanya sebagai insinyur tambang, melainkan motivasi untuk terus berkembang demi masa depan keluarganya.
Ketertarikan Yayu pada dunia pertambangan tumbuh sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Terinspirasi melihat perempuan yang bekerja di lapangan, ia memilih jurusan Teknik Pertambangan dan bergabung dengan Harita Nickel pada 2023.
Sebagai Junior Mine Plan Engineer, Yayu terlibat dalam penyusunan rencana penambangan, mulai dari menganalisis data hingga menyusun desain tambang yang mendukung operasional secara aman, efektif, dan sesuai target produksi.
Perjalanan kariernya memasuki babak baru ketika ia menjadi seorang ibu. Namun, baginya, keluarga justru menjadi sumber semangat untuk terus berkarya.
"Sejak awal memutuskan untuk memiliki anak, saya tidak pernah melihat karier dan keluarga sebagai dua hal yang harus dipilih salah satunya. Menjadi ibu bukan akhir perjalanan saya. Justru itu menjadi babak baru yang membuat saya semakin bersemangat untuk terus berkembang, baik sebagai ibu maupun sebagai seorang engineer," ungkap Yayu.
Menjalani dua peran sekaligus tentu bukan tanpa tantangan. Saat Yayu bekerja di Pulau Obi, kedua orang tuanya bersama sanak keluarganya mengambil peran penting dalam mendampingi sang buah hati. Dukungan keluarga itulah yang memberinya ketenangan untuk tetap fokus menjalankan tanggung jawab di tempat kerja.
"Tanpa dukungan mereka, saya mungkin tidak bisa menjalani semuanya dengan baik. Mereka selalu memberikan kepercayaan dan semangat agar saya tetap bisa mengejar cita-cita sekaligus menjadi ibu bagi anak saya," katanya.
Yayu juga merasakan dukungan dari lingkungan kerja. Menurutnya, sistem kerja berbasis roster memberikan kepastian waktu sehingga ia dapat membagi fokus antara pekerjaan dan keluarga.
"Bagi saya, roster bukan sekadar jadwal kerja. Dengan waktu yang sudah terencana, saya bisa memberikan fokus penuh saat bekerja dan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga ketika masa istirahat tiba," ujarnya.
Mine Plan Manager PT TBP, Das Anton, menilai Yayu menunjukkan semangat belajar yang tinggi dan berkembang menjadi anggota tim yang dapat diandalkan.
"Di Harita Nickel, kesempatan untuk berkembang terbuka bagi semua. Yang menjadi ukuran adalah kompetensi, kemauan belajar, dan kinerja. Yayu membuktikan bahwa kompetensi tidak ditentukan oleh gender," ujarnya.
Setiap perjalanan menuju Pulau Obi selalu mengingatkan Yayu pada alasan mengapa ia terus berkarya. Bukan semata untuk membangun karier, tetapi juga menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi keluarga. Di balik helm keselamatan yang dikenakannya setiap hari, ia membuktikan bahwa menjadi ibu tidak pernah menjadi batas untuk terus berkembang dan berkontribusi di industri pertambangan.


