(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Tumbuh Bersama Industri Nikel, Putra-Putri Obi Mengisi Peran Strategis

Kategori

:
Insan Harita.

23 April 2026 | media

detail

Di Pulau Obi, perjalanan karier sering kali berawal dari kesempatan sederhana, lalu tumbuh seiring waktu, pengalaman, dan ketekunan. Bagi banyak masyarakat lokal, proses ini tidak instan. Ia berjalan bertahap, mengikuti dinamika industri yang terus berkembang.

Salah satu kisah datang dari Frangi Cako, pemuda asal Kawasi. Ia memulai kariernya di Harita Nickel pada 2015 sebagai anggota security, saat usianya baru 18 tahun. Seiring waktu, kedisiplinan dan pengalaman membawanya naik menjadi Komandan Regu, hingga kini menjabat Supervisor Security sejak September 2025.

“Di Industrial Sektor 3, kami berjumlah 43 personel dan bertugas di titik-titik strategis perusahaan,” ujarnya.

Bagi Angki, sapaan akrab Frangi, tugas security bukan sekadar berjaga. Ia mengatur personel, berkoordinasi dalam aspek keselamatan, hingga menangani administrasi. Bahkan, ia mendapat kesempatan mengikuti pelatihan komputer yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.

“Di sini kami belajar hal-hal baru yang langsung menunjang pekerjaan,” katanya.

Angki juga menepis anggapan bahwa tenaga kerja lokal tidak mendapat ruang berkembang. Baginya, kesempatan itu nyata, selama disertai kemauan untuk belajar dan bekerja keras.

“Saya lahir dan besar di Kawasi. Bisa sampai di posisi ini membuktikan bahwa putra daerah punya peluang. Yang penting dedikasi, bukan mengeluh,” tegasnya.

Lebih dari satu dekade ia berproses dari bawah. Pengalaman itu menjadi pesannya bagi generasi muda Obi: tidak ada jalan pintas dalam membangun karier.

 

Dari Lapangan ke Peran Pengawasan

Cerita serupa datang dari Yokber Cecene, yang kini menjabat sebagai Construction & Engineering Supervisor. Ia bergabung sejak 2007, saat sekitar 50 warga Kawasi direkrut untuk membangun fondasi awal operasional.

“Saya mulai dari pekerjaan paling dasar. Sekarang memimpin tim dengan beberapa foreman dan kru,” ujarnya.

Pengalamannya lekat dengan pekerjaan konstruksi, termasuk pembangunan Jembatan Akelamo yang menghubungkan Kawasi dan Soligi. Dedikasi dan tanggung jawab menjadi kunci perjalanan kariernya.

Perubahan juga ia rasakan dalam kehidupan pribadi. Dari seorang pekerja muda, kini ia telah menjadi kepala keluarga dengan anak yang tengah menempuh pendidikan di Yogyakarta.

“Kondisi ekonomi keluarga jauh lebih baik. Istri saya juga membuka usaha sembako di sekitar permukiman,” katanya.

Bagi Yokber, perkembangan industri tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Karyawan Harita Nickel yang berasal dari Kawasi
Putra asli Kawasi, Yokber Cecene, kini memegang jabatan sebagai Construction & Engineering Supervisor. Ia memulai karier dari lapangan hingga diberi peran dalam pengawasan.

 

Langkah Awal Generasi Baru

Dari generasi yang lebih muda, Sifa Sahbila Amirudin menunjukkan jalur yang berbeda. Warga Desa Soligi berusia 19 tahun ini memulai langkahnya melalui program PELITA (Peningkatan Keahlian dan Keterampilan) angkatan IV dengan fokus pada keahlian bahasa Mandarin.

Kini, ia menjalani magang di Departemen HRGA sebagai penerjemah. “Saya memilih belajar komputer dan Mandarin karena relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” ujarnya.

Keterbatasan ekonomi sempat menghalangi keinginannya untuk melanjutkan pendidikan. Namun, kesempatan magang membuka jalan baru bagi pengembangan dirinya.

Awalnya, ia mengaku sempat ragu dan merasa minder. Namun, pengalaman di lingkungan kerja justru memberinya kepercayaan diri. “Saya diterima dengan baik. Banyak yang membantu dan mengarahkan,” katanya.

Bagi Sifa, pengalaman ini bukan hanya soal pekerjaan, tetapi juga langkah awal untuk membantu keluarga dan membangun masa depan.

Kisah Angki, Yokber, dan Sifa menunjukkan perubahan yang tengah berlangsung di Pulau Obi. Di tengah pertumbuhan industri nikel, semakin banyak putra-putri daerah yang tidak lagi sekadar menjadi penonton, melainkan turut mengambil peran.

Mereka tumbuh bersama industri dan kini benar-benar menjadi tuan rumah di tanah kelahirannya sendiri.

Magang Departemen HRGA
Sifa Sahbila Amirudin, salah satu generasi muda terbaik Pulau Obi di tengah kesibukan menjalani masa magang di Departemen HRGA Site Obi.