
Inovasi dalam pertambangan tidak hanya lahir dari pengalaman di lapangan, tetapi juga dari pertemuan antara praktik dan ilmu pengetahuan. Semangat itulah yang mewarnai sharing session bertajuk “Peran Alumni IPB dalam Menciptakan Inovasi Pengelolaan Pascatambang” bersama Kepala Pusat Studi Reklamasi Tambang IPB, Dr. Ir. Irdika Mansur, M.For.Sc., di Kawasan Industri Obi (KIO).
Forum yang mempertemukan 20 alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dari berbagai unit bisnis Harita Nickel pada akhir Juli 2026 itu menjadi ruang berbagi pengetahuan antara akademisi dan praktisi. Mereka mendiskusikan tantangan pengelolaan pascatambang, peluang penerapan hasil riset, hingga pengembangan program yang memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Dalam paparannya, Dr. Irdika menegaskan bahwa perguruan tinggi dan industri memiliki hubungan yang saling menguatkan. Menurutnya, riset di kampus dapat menjadi solusi atas berbagai tantangan perusahaan, mulai dari pengelolaan lingkungan hingga pemberdayaan masyarakat.

"Studi Reklamasi Tambang ini menjalankan tiga peran yakni meneliti untuk berinovasi, membantu pemerintah melahirkan peraturan perundangan, dan membantu perusahaan tambang mengimplementasikan peraturan perundangan," ujarnya.
Ia menambahkan, reklamasi kini tidak lagi dimaknai sebatas mengembalikan lahan menjadi hijau, tetapi juga menghadirkan kawasan pascatambang yang produktif melalui pemanfaatan sektor seperti pertanian, perikanan, peternakan, maupun komoditas lokal.
Gagasan tersebut telah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari Lukmanul Hakim, Community Development Supervisor Harita Nickel. Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu memanfaatkan bekal keilmuannya untuk merancang berbagai program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Salah satunya melalui Sentra Usaha Petani dan Nelayan (SUTAN), yang mendampingi nelayan di Desa Kawasi dan Soligi meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan melalui fasilitas pengolahan ikan modern.
"Ilmu yang saya pelajari di IPB sangat membantu dalam memahami potensi sumber daya pesisir dan kebutuhan masyarakat. Bekal tersebut menjadi dasar bagi kami dalam merancang program pemberdayaan yang sesuai dengan kondisi lapangan, sehingga tidak hanya meningkatkan kapasitas masyarakat, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi mereka," ujar Lukman.
Menurutnya, keberhasilan program pemberdayaan bertumpu pada pemahaman terhadap potensi lokal dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, pendekatan berbasis ilmu pengetahuan menjadi kunci agar setiap program benar-benar memberi dampak.

Bagi Harita Nickel, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sinergi dengan perguruan tinggi bukan sekadar pertukaran pengetahuan, tetapi juga bagian dari upaya membangun budaya belajar dan melahirkan solusi yang relevan bagi perusahaan maupun masyarakat.
Bagi Andi Muhammad Fajri Nur Ramzy Makarratte, Environment Marine Foreman Harita Nickel, forum tersebut menghadirkan cara pandang baru terhadap reklamasi.
"Diskusi ini membuat saya melihat reklamasi dari perspektif yang lebih luas. Reklamasi bukan hanya tentang memulihkan lahan, tetapi juga bagaimana menghadirkan kawasan yang produktif dan memberi manfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Dari sebuah ruang diskusi di site Obi, para peserta menunjukkan bahwa gagasan besar tidak selalu lahir dari laboratorium atau ruang rapat. Ia juga tumbuh dari pertemuan berbagai pengalaman, pertukaran pengetahuan, dan kemauan untuk terus belajar bersama.[]


