(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Sekolah Ladang di Obi Dorong Tumbuhnya Kemandirian Perempuan Desa

Kategori

:
CSR.

01 Juni 2026 | media

detail

Di balik perbukitan Desa Soligi, Pulau Obi, Halmahera Selatan, hamparan sayuran tumbuh menghijau di atas bedeng-bedeng tanah yang tertata rapi. Kangkung, cabai, kacang panjang, hingga timun kini tumbuh subur di lahan yang dulu hanya digarap seadanya.

Siang itu, puluhan ibu rumah tangga tampak sibuk di kebun. Sebagian mencangkul tanah, sebagian lain memeriksa daun tanaman sambil berdiskusi soal hama dan jadwal panen. Sulit membayangkan, beberapa tahun lalu banyak dari mereka belum mengenal teknik dasar budidaya hortikultura.

Para ibu rumah tangga yang berada di Ladang Tani milik sendiri.

Kini, dari kebun-kebun itulah para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Soligi dan Kawasi mulai menikmati hasil nyata. Sayuran yang mereka tanam rutin dipasok ke perusahaan dan pasar lokal, dengan omzet mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan.

Ketua KWT Soligi, Jahariya, mengatakan kelompoknya yang beranggotakan 19 perempuan kini mengelola empat lahan pertanian hortikultura.

“Kami menanam sayur, cabai, kacang panjang di empat lokasi. Sayur dikirim ke perusahaan dua kali seminggu, hasilnya bisa sekitar Rp 30 juta per bulan,” ujarnya.

Bagi Jahariya, capaian itu bukan sekadar tambahan penghasilan. Dari kebun-kebun tersebut, para anggota kelompok mulai memiliki rasa percaya diri untuk ikut menopang ekonomi keluarga.

Di Pulau Obi, pertanian sebenarnya bukan hal baru. Masyarakat Desa Soligi dan Kawasi telah lama menggantungkan hidup dari kebun pala, cengkeh, dan kelapa. Namun, pola bertani yang dilakukan masih bersifat tradisional dan turun-temurun, termasuk praktik ladang berpindah dengan teknik budidaya yang terbatas.

Tanaman hortikultura pun belum banyak dikenal masyarakat. Kalaupun ada, proses budidaya dilakukan tanpa perencanaan musim tanam, penyemaian bibit, maupun pengendalian hama yang memadai.

Aktivitas yang ada di Ladang Tani Tanaman Holtikultura.

Melihat kondisi tersebut, Harita Nickel melalui program sekolah ladang mulai melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya Kelompok Wanita Tani di Desa Soligi dan Kawasi.

Pendampingan dilakukan tidak hanya melalui pelatihan budidaya, tetapi juga dengan pendekatan berbasis nilai. Para pendamping memulai dengan mendengarkan kebutuhan warga, terutama perempuan yang ingin membantu meningkatkan penghasilan keluarga.

“Di sini anggota kelompok taninya perempuan semua. Karena kebanyakan laki-laki bekerja di perusahaan atau menjadi nelayan, ibu-ibu ingin membantu ekonomi keluarga lewat pertanian,” ujar Albertus Darukumara, Community Development Supervisor Harita Nickel.

Pada tahap awal, proses pendampingan tidak berjalan mudah. Tantangan terbesar datang dari kebiasaan masyarakat yang ingin melihat hasil cepat, sementara pertanian hortikultura membutuhkan proses yang bertahap dan telaten.

Karena itu, para pendamping memilih metode praktik langsung di lapangan. Setelah mendapatkan pembekalan teori, anggota kelompok diajak belajar bersama di kebun, mulai dari membuat bedeng, menyemai bibit, merawat tanaman, hingga mengenali gejala serangan hama.

Pendekatan tersebut perlahan membuahkan hasil

Kini, anggota KWT di Soligi dan Kawasi sudah mampu membudidayakan berbagai jenis sayuran hortikultura seperti kangkung, bayam, pare, terong, kacang panjang, hingga cabai dengan kualitas yang semakin baik. Mereka juga mulai memahami pentingnya menjaga kualitas panen dan kontinuitas pasokan agar kepercayaan konsumen tetap terjaga.

Ketua KWT Kawasi, Thofiya, mengaku hasil pertanian tersebut membawa perubahan nyata bagi keluarganya.

“Kami berterima kasih kepada perusahaan karena dari hasil panen pertama dan kedua dari lahan kami di Akelamo, kami bisa bayar sekolah cucu sampai lulus SMA di Bacan,” katanya.

Perubahan itu juga dirasakan masyarakat desa. Tokoh masyarakat sekaligus aparatur Desa Soligi, Abu Jaya, menilai para anggota kelompok kini tidak hanya lebih memahami cara mengolah lahan, tetapi juga mulai mampu mengelola usaha pertanian secara berkelompok.

Aktivitas bertani oleh Harita Nickel bersama masyarakat Desa Kawasi.

Bagi Harita Nickel, sekolah ladang tidak berhenti pada pelatihan semata. Program ini diharapkan menjadi jalan bagi tumbuhnya kemandirian masyarakat, terutama perempuan, agar mampu mengembangkan pertanian secara mandiri dan menularkan pengetahuan yang mereka peroleh kepada warga lain.

Di tengah lereng-lereng Soligi dan Kawasi yang kini dipenuhi tanaman hortikultura, perubahan itu tumbuh pelan namun nyata. Dari tangan para ibu rumah tangga, lahan yang dahulu digarap sekadarnya kini menjelma menjadi sumber penghidupan baru bagi keluarga mereka.