
Di tengah keberagaman karyawan Harita Nickel, tari menjadi bahasa yang menyatukan. Dari gerakan tradisional, mereka mengenal budaya, berbagi cerita, dan merajut kebersamaan.
Di tempat kerja yang mempertemukan orang-orang dari berbagai penjuru Indonesia, Sanggar Masigaro hadir sebagai ruang untuk mengenal kekayaan budaya Nusantara melalui seni tari. Bukan hanya budaya dari satu daerah, melainkan beragam kesenian yang dibawa dan dibagikan oleh para anggotanya.
Sanggar ini berdiri pada 29 November 2025. Nama Masigaro berasal dari bahasa lokal Ternate, Maluku Utara, yang berarti mengajak. Maknanya menjadi semangat sanggar untuk mengajak karyawan bersama-sama mengenal, mempelajari, dan melestarikan budaya Indonesia.
Gagasan tersebut datang dari Saddam Hi Kasim, personel Industrial Relation PT Karunia Permai Sentosa, unit bisnis Harita Nickel. Ia melihat bahwa di antara kesibukan bekerja, ada karyawan yang memiliki minat dan pengalaman dalam seni tari, tetapi belum memiliki ruang untuk menyalurkan kegemarannya.
“Saya paham teman-teman yang ada di sini, bukan hanya basket dan menyanyi, tapi juga ada yang hobi menari. Jadi tidak ada salahnya perusahaan menyediakan wadah untuk teman-teman menyalurkan hobi menari tradisional,” ungkap Sadam.
Ajakan itu mendapat respons positif. Kini, sekitar 20 karyawan telah bergabung dalam Sanggar Masigaro. Mereka tidak hanya berasal dari Maluku Utara, tetapi juga dari berbagai daerah di Indonesia, dengan latar belakang dan pengalaman budaya yang beragam.
Bagi Syahril Abd Rauf, salah satu anggota sanggar, keberagaman itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Sanggar Masigaro mempertemukannya dengan rekan kerja yang memiliki minat serupa, sekaligus membuka kesempatan untuk mengenal kesenian dari daerah lain.
“Saya senang bisa bertemu dengan teman-teman yang punya minat yang sama terhadap tari. Dari sini saya juga bisa belajar dan mengenal berbagai kesenian tari dari daerah lain yang sebelumnya belum saya ketahui,” ujar Syahril.
Proses belajar berlangsung dalam dua kelas, yakni profesional dan pemula. Mereka yang telah memiliki pengalaman dapat berbagi pengetahuan, sementara anggota pemula mendapat ruang untuk belajar dan berkembang bersama.
Kebersamaan itu kemudian dibawa ke panggung. Pada malam Herophoria #6 dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia, Sanggar Masigaro membawakan Tari Katreji, kesenian asal Maluku yang memadukan unsur budaya lokal dengan pengaruh Eropa.
Dalam penampilan terbaru, mereka membawakan Tari Dendang Ba Lala atau Ba Dendang Cobo Lala, kesenian rumpun Melayu yang telah hidup selama berabad-abad di wilayah Kesultanan Bacan. Tarian tersebut merupakan salah satu ekspresi budaya tradisional khas Halmahera Selatan yang telah dilindungi sebagai kekayaan intelektual komunal.
Dukungan perusahaan turut memberi ruang bagi sanggar untuk tumbuh, antara lain melalui penyediaan tempat latihan dan kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan perusahaan.
Ke depan, Sadam berharap Sanggar Masigaro dapat berkembang dan menjadi wadah yang lebih luas bagi insan Harita dari berbagai unit bisnis untuk berbagi pengetahuan serta kecintaan terhadap kesenian daerah.
Lebih dari sekadar menyalurkan hobi, sanggar ini menjadi ruang perjumpaan. Bagi para anggotanya, tari dapat menjadi cara untuk mengenal budaya lain, mempererat persaudaraan, sekaligus mengobati rindu pada kampung halaman.
Di Sanggar Masigaro,tidak berhenti sebagai perbedaan asal daerah. Melalui tari, para karyawan saling mengenal, berbagi budaya, dan merawat kecintaan pada warisan Nusantara. Semangat itu sekaligus mempererat persaudaraan dan menghidupkan nilai Bhinneka Tunggal Ika serta semangat Satu Harita, Saling Menjaga.


