Diskusi tentang satwa endemik memenuhi ruang kelas SMA Negeri 35 Halmahera Selatan di Desa Soligi, Pulau Obi. Satwa yang dibicarakan para siswa bukan hewan dari tempat jauh, melainkan spesies yang hidup dekat dengan keseharian mereka: Kuskus Obi, Walik Benjol, Kasturi Ternate, Kapasan Halmahera, hingga Soa Layar.
Antusiasme para pelajar itu sejalan dengan semangat Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang diperingati setiap 22 Mei. Tahun ini, tema “Acting Locally for Global Impact” menekankan bahwa upaya menjaga keanekaragaman hayati dapat dimulai dari lingkungan sekitar dan memberi dampak lebih luas.
Semangat tersebut tercermin dalam program Sahabat Konservasi, inisiatif edukasi lingkungan yang dijalankan Harita Nickel di Pulau Obi. Program ini mengajak pelajar mengenal kekayaan hayati Pulau Obi dan Maluku Utara, sekaligus memahami hubungan antara satwa liar, hutan, dan kehidupan masyarakat.
Pada kegiatan 6 Mei 2026 itu, sebanyak 42 siswa mengikuti sesi pembelajaran interaktif bersama tim konservasi dari Departemen Sustainability Harita Nickel. Melalui kombinasi visualisasi satwa endemik, simulasi, dan diskusi kelompok, para siswa diajak memahami peran ekologis satwa liar serta pentingnya menjaga habitat di sekitar mereka.
Conservation Specialist Harita Nickel, Ricky Danang Pratama, mengatakan pendekatan interaktif dipilih agar materi konservasi lebih mudah dipahami pelajar.
“Kami ingin siswa tidak hanya mengenal nama satwa endemik, tetapi juga memahami perannya dalam ekosistem dan kaitannya dengan kehidupan masyarakat di Pulau Obi,” ujarnya.
Pendekatan “kenali dan peduli” menjadi inti program ini. Sebab, kepedulian terhadap lingkungan sering kali tumbuh dari rasa dekat dengan alam sekitar.
“Saya jadi lebih memahami kalau satwa yang sering kami lihat ternyata punya peran penting untuk hutan. Jadi lebih sadar kalau menjaga lingkungan juga penting untuk masa depan kami di Obi,” ujar Sahrul, salah satu siswa peserta kegiatan.
Proses pembelajaran yang interaktif antara tim Harita Nickel dan para siswa SMA Negeri 35 Halmahera Selatan.
Guru SMA Negeri 35 Halmahera Selatan, Yarni, menilai pendekatan tersebut membantu siswa memahami isu lingkungan secara lebih kontekstual.
“Materi konservasi menjadi lebih mudah dipahami karena contoh yang digunakan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Anak-anak juga lebih antusias berdiskusi,” katanya.
Program ini turut dievaluasi melalui pre-test dan post-test dengan hasil yang menunjukkan peningkatan nilai rata-rata peserta sekitar 30,6 persen.
Sahabat Konservasi telah dijalankan sejak 2025 dengan menyasar pelajar tingkat SD hingga SMA di Desa Soligi dan Kawasi. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau sekitar 170 siswa dan akan terus diperluas ke sekolah-sekolah di desa lain di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Harita Nickel bersama Sahabat Konservasi dalam rangka Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026
Edukasi mengenai perlindungan satwa dan tumbuhan endemik juga diberikan kepada masyarakat. Pada April lalu, Harita Nickel bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara menggelar sosialisasi mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan habitat satwa liar. Edukasi lingkungan juga rutin diberikan kepada karyawan sebagai bagian dari upaya membangun budaya konservasi di area operasional perusahaan.
Conservation Superintendent Harita Nickel, Sephy Noerfahmy, mengatakan pelibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan di Pulau Obi.
“Konservasi perlu dibangun bersama. Karena itu, kami ingin kesadaran menjaga keanekaragaman hayati tumbuh tidak hanya di lingkungan kerja, tetapi juga di tengah masyarakat dan generasi muda,” ujarnya.
Di tengah kekayaan hayati dan aktivitas industri yang terus berkembang di Pulau Obi, ruang dialog mengenai lingkungan menjadi semakin penting. Melalui Sahabat Konservasi, Harita Nickel berupaya membangun pemahaman bersama bahwa menjaga habitat dan satwa liar merupakan tanggung jawab kolektif.
Di Pulau Obi, langkah itu kini dimulai dari ruang kelas. Dari rasa ingin tahu para pelajar terhadap satwa yang hidup di sekitar mereka, kesadaran untuk menjaga lingkungan diharapkan perlahan tumbuh.

