
Membangun industri pertambangan yang berkelanjutan tidak hanya dilakukan melalui inovasi di area operasional, tetapi juga dengan berbagi pengetahuan kepada generasi penerus. Melalui program Harita Mengajar, para praktisi Harita Nickel hadir di sejumlah perguruan tinggi untuk berbagi pengalaman, memperkenalkan praktik pertambangan yang bertanggung jawab, serta membuka ruang dialog antara dunia industri dan akademik.
Rangkaian Harita Mengajar berlangsung di Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Trisakti, dan Universitas Islam Indonesia (UII). Melalui kuliah umum dan sesi berbagi pengalaman, mahasiswa diajak memahami berbagai aspek industri nikel, mulai dari pengelolaan lingkungan, inovasi pertambangan dan pemrosesan nikel, hingga peran ilmu kimia dalam mendukung transisi energi global.
Roadshow diawali di Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB. Vice President Environmental Green Mining Harita Nickel, Retno Dewi Handayani, berbagi pengalaman mengenai pengelolaan biodiversitas dan lingkungan di area operasional, termasuk reklamasi lahan pascatambang, pengembangan Loji Central Nursery sebagai pusat pembibitan tanaman, serta pemantauan flora, fauna, dan ekologi perairan.

Retno juga memperkenalkan inovasi pemanfaatan slag nikel sebagai soil ameliorant (pembenah tanah) yang telah memperoleh Standar Nasional Indonesia (SNI 9420:2025). Inovasi ini menjadi salah satu contoh kolaborasi antara dunia industri dan akademik dalam mendukung praktik reklamasi yang lebih efektif dan bertanggung jawab.
“Melalui pengelolaan lingkungan yang terencana dan berbasis data, kami ingin menunjukkan bahwa pertambangan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan secara beriringan. Forum akademik seperti ini menjadi ruang yang sangat baik untuk berbagi pengalaman sekaligus berdiskusi mengenai tantangan dan peluang pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan,” ujar Retno.
Kegiatan kemudian berlanjut di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti. Di hadapan sekitar 80 mahasiswa, Executive Vice President Environmental Affairs Harita Nickel, Iwan Syahroni, memperkenalkan rantai nilai industri nikel terintegrasi Harita Nickel, mulai dari penambangan, pengolahan menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leach (HPAL), hingga berbagai inisiatif keberlanjutan perusahaan, seperti efisiensi energi, pemanfaatan panel surya, pembangunan coal dome, dan berbagai pencapaian dalam aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

“Industri pertambangan saat ini tidak hanya membutuhkan talenta yang memahami aspek teknis, tetapi juga memiliki perspektif yang kuat terhadap keberlanjutan, lingkungan, dan tata kelola. Karena itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan industri di masa depan,” kata Iwan.
Roadshow Harita Mengajar ditutup melalui kuliah umum di Program Studi Kimia FMIPA Universitas Islam Indonesia (UII). Mengangkat tema Transisi Energi Global: Peran Ilmu Kimia dan Generasi Muda dalam Pertambangan Berkelanjutan, Iwan menjelaskan peran ilmu kimia dalam proses pengolahan nikel melalui teknologi HPAL serta penerapannya dalam optimasi proses, pengendalian kualitas produk, pengelolaan air dan limbah, hingga pengendalian emisi.

“Transisi energi global membuka peluang yang sangat besar bagi generasi muda Indonesia untuk berkontribusi melalui berbagai disiplin ilmu. Kami berharap mahasiswa dapat melihat bahwa industri pertambangan modern membutuhkan kolaborasi lintas bidang keilmuan untuk menghasilkan inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan,” tambah Iwan.
Melalui rangkaian Harita Mengajar, Harita Nickel terus memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi sekaligus memperkenalkan praktik pertambangan yang bertanggung jawab kepada generasi muda. Kehadiran para praktisi perusahaan di ruang kuliah menjadi wujud kontribusi insan Harita Nickel dalam berbagi pengetahuan, menginspirasi calon talenta industri, serta mendukung pengembangan sumber daya manusia yang siap menjawab tantangan masa depan industri nikel Indonesia.


