Program Management Trainee (MT) Harita Nickel menjadi pintu bagi ratusan pemuda Maluku Utara menapaki karier profesional di industri nikel. Dari program ini lahir generasi baru pekerja yang tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga membawa semangat baru di jantung hilirisasi logam strategis nasional.
Salah satunya adalah Fitria Eka Ananda Tan, perempuan asal Ternate yang awalnya tak pernah membayangkan berkarier di industri pengolahan nikel. Setelah menamatkan kuliah dan bekerja di beberapa tempat, Eka memberanikan diri melamar program MT yang dibuka PT Megah Surya Pertiwi (MSP), salah satu unit bisnis Harita Nickel di Pulau Obi.
“Waktu itu saya berpikir, ini kesempatan yang jarang ada. Dan ternyata benar, banyak hal yang akhirnya saya pelajari di sini,” ujarnya.
Sebagai peserta MT, Eka menjalani serangkaian pelatihan intensif. Mulai dari pengenalan, dasar-dasar operasional hingga manajemen proyek di lingkungan kerja yang kompleks. “Pelatihannya semi-militer, cukup berat, apalagi untuk perempuan. Tapi di sana tidak ada perbedaan, semua sama karena kami sama-sama trainee,” kenangnya.
Dari proses itu, tumbuh rasa disiplin, solidaritas, dan tanggung jawab tinggi di antara peserta. Program MT Harita Nickel memang dirancang untuk menyiapkan talenta muda menjadi calon pemimpin masa depan, dengan pembekalan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga nilai-nilai perusahaan: Humility, Achievement Oriented, Respect, Integrity, Teamwork, dan Accountability.
“Kami belajar banyak tentang leadership. Bagaimana memimpin tim, mengambil keputusan, dan bekerja dengan dedikasi,” kata Eka.
Kini, setelah satu dekade bekerja di Harita Nickel, Eka mengaku perjalanan itu telah mengubah cara pandangnya terhadap dunia kerja. “Program ini bukan sekadar awal karier, tapi proses menemukan diri sendiri,” tuturnya.
Kisah Eka sejalan dengan perjalanan dua rekan seangkatannya, Faisal A. Banjar dan Majid Masyud, yang kini bekerja di Departemen Power Plant MSP. Faisal mengenang bagaimana ia mengikuti seleksi MT batch pertama tahun 2015 yang diikuti hampir seribu peserta. “Persaingannya ketat sekali, tapi saya bersyukur bisa lolos,” ujarnya.
Usai tiga bulan pelatihan semi-militer di Pulau Obi dan kursus Bahasa Mandarin, Faisal dan rekan-rekan dikirim ke Tiongkok untuk pelatihan lanjutan di fasilitas smelter. Di sana mereka belajar tentang sistem kelistrikan, kontrol emisi dan juga etos kerja yang tinggi.
“Bagi saya, MSP sudah seperti rumah kedua. Saya berharap lebih banyak anak muda Maluku Utara mendapat kesempatan seperti kami.”
Sementara itu, Majid Masyud dari Bacan menilai pengalaman MT sebagai perjalanan pembelajaran yang berharga. “Selain pengetahuan teknis, yang paling berkesan adalah kebersamaan dan dukungan antar peserta. Semua itu membentuk cara kami bekerja secara profesional,” ujarnya.
Menurut Willy Kusuma Dewadi, Head of Technical Support PT MSP, perusahaan terus memberikan ruang bagi pemuda lokal untuk meniti karier dan menjadi garda terdepan dalam alih teknologi dari tenaga kerja asing ke tenaga kerja Indonesia.
“Para pemuda lokal itu kini menempati posisi-posisi strategis dalam operasional smelter pirometalurgi kemitraan Harita Nickel dengan Xinxing Ductile Iron Pipes Co., Ltd. Ini adalah bukti nyata bahwa proses transfer pengetahuan berjalan efektif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kisah Eka, Faisal, dan Majid dan juga karyawan dari unit bisnis lainnya menunjukkan bahwa program MT Harita Nickel bukan sekadar rekrutmen, tetapi proses pembentukan manusia: menanamkan disiplin, menumbuhkan mimpi, dan membangun tekad untuk tumbuh bersama.
Di tengah dinamisnya industri nikel nasional, mereka adalah wajah masa depan Maluku Utara. Generasi yang lahir dari tanahnya sendiri, tumbuh melalui kesempatan yang nyata, dan kini menjadi bagian dari sejarah pembangunan negeri.


