(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Perkuat Sistem Tanggap Darurat, Harita Nickel Gelar Drill Penyelamatan dan Medis Terpadu

Kategori

:
Lingkungan & K3.

06 Maret 2026 | media

detail

Kecepatan dan ketepatan respons dalam situasi darurat tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari sistem yang terus diuji. Untuk memperkuat keandalan sistem tanggap darurat, Harita Nickel melalui PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) dan PT Dharma Cipta Mulia (DCM) menggelar drill penyelamatan dan penanganan medis terpadu.

Drill yang dilakukan oleh 2 unit bisnis Harita Nickel secara terpisah itu menjadi ujian penting bagi kesiapan kolaborasi lintas departemen saat menghadapi kondisi darurat di lapangan.

Uji Sistem Medis Terpadu Hadapi Insiden Keracunan Massal

Tenaga medis melakukan pemeriksaan terhadap pekerja dalam simulasi penanganan kasus keracunan makanan di fasilitas kesehatan perusahaan.

Di PT HJF, drill difokuskan pada skenario darurat medis berupa keracunan makanan massal di area mes karyawan. Laporan awal yang masuk ke Command Center menyebutkan sejumlah karyawan mengalami mual, pusing, dan kram perut hebat satu jam usai makan siang.

Untuk menguji kapasitas sistem dalam skala besar, simulasi melibatkan 15 "korban". Sebanyak 10 korban dengan kategori ringan hingga sedang (triase hijau dan kuning), sementara lima korban lainnya dalam kondisi berat (triase merah). Dalam skenario, korban kategori berat mengalami muntah dan diare berulang hingga sepuluh kali. Dalam situasi nyata, kondisi ini dapat memicu dehidrasi dan gangguan elektrolit.

Penerapan sistem triase yang ketat menjadi kunci penanganan. Pasien kategori merah langsung dievakuasi ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk tindakan intensif, sementara kategori lainnya ditangani di rawat jalan.

Medical & Paramedic Supervisor PT HJF, Sugianto, memaparkan bahwa tujuan dari drill keracunan makanan adalah untuk mengevaluasi kesiapan sistem secara menyeluruh dan mengidentifikasi kendala saat menghadapi kasus besar yang menuntut kolaborasi lintas departemen.

Menyambung hal tersebut, Site Medical Doctor Harita Nickel, dr. Randy Palittin Tonapa, membedah secara medis mengapa kecepatan penanganan dalam skenario ini sangat krusial. Ia memaparkan bahwa pada kasus keracunan makanan, muntah dan diare menyebabkan tubuh kehilangan cairan serta elektrolit dalam jumlah yang cukup besar.

"Apabila tidak segera digantikan, kondisi tersebut dapat menimbulkan dehidrasi yang ditandai dengan rasa lemas, haus, dan penurunan frekuensi buang air kecil. Oleh karena itu, pemberian cairan, seperti larutan rehidrasi oral atau cairan intravena sesuai indikasi, perlu dilakukan secara segera untuk mencegah perburukan kondisi pasien," jelas dr. Randy.

Kondisi kehilangan cairan masif inilah yang berpotensi memicu bahaya fatal jika diabaikan. "Gejala muntah lebih dari tiga kali yang disertai kram perut harus segera ditangani untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, mulai dari penurunan tekanan darah hingga gangguan kesadaran," tambahnya.

Evaluasi Prosedur Penyelamatan Insiden Operasional

Tim tanggap darurat Harita Nickel melakukan simulasi pertolongan pertama kepada pekerja dalam latihan penanganan korban di area operasional.

Penguatan sistem tanggap darurat juga diuji di PT DCM melalui drill kecelakaan kerja di area stone crusher. Ketangkasan tim diukur lewat skenario penyelamatan seorang karyawan yang terjepit di belt conveyor akibat mesin yang tiba-tiba menyala saat proses maintenance. Skenario ini dipilih karena memiliki tingkat risiko tinggi berdasarkan hasil identifikasi bahaya dan potensi cidera serius

Begitu laporan darurat masuk, Command Center langsung mengorkestrasi pergerakan tim respons gabungan yang terdiri dari Fire and Emergency Services (FES), Klinik, Security, dan Safety untuk segera melakukan operasi ekstraksi dan pertolongan pertama.

OHS Superintendent PT DCM, Priyo Adi Pamungkas, menjelaskan bahwa simulasi ini menjadi sarana edukasi sekaligus evaluasi untuk memantapkan tata cara evakuasi, prosedur triase, serta mengidentifikasi celah operasional. "Tujuan utamanya adalah mengevaluasi kolaborasi antar-tim respons sebelum kita benar-benar menghadapi situasi riil di lapangan," tegasnya.

Kedua simulasi darurat ini menegaskan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di Harita Nickel bukanlah sekadar aturan tertulis, melainkan sistem yang terus hidup melalui evaluasi berkelanjutan. Ke depan, hasil temuan simulasi akan menjadi dasar untuk meningkatkan pelatihan, menyempurnakan prosedur, serta memperkuat koordinasi antar-tim. Tujuannya jelas: memastikan seluruh elemen tanggap darurat selalu sigap melindungi keselamatan karyawan dan menekan risiko operasional sekecil mungkin.