(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Peneliti FPIK Unkhair Ungkap Nelayan Obi Tetap Melaut di Tengah Perkembangan Industri Nikel

Kategori

:
Lingkungan & K3.

07 November 2025 | media

detail

Kajian terbaru peneliti dari Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Khairun (FPIK Unkhair) Ternate menunjukkan bahwa aktivitas nelayan di Pulau Obi tetap berjalan aktif di tengah berkembangnya industri pertambangan dan pengolahan nikel. Temuan ini menjadi gambaran bahwa masyarakat pesisir di Obi terus beradaptasi dan berdaya di tengah perubahan ekonomi kawasan.

Penelitian ini dilakukan pada Juni 2025, melalui observasi dan wawancara dengan masyarakat di Desa Kawasi dan Soligi, dua desa pesisir yang berada di lingkar operasional Harita Nickel. 

Prof. Dr. Janib Achmad, S.Pi., M.Sc., Guru Besar FPIK Unkhair, menyampaikan bahwa observasi penting dilakukan untuk memahami aspek sosial ekonomi masyarakat. “Perikanan merupakan sumber daya alam penting di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Observasi ini penting untuk mengetahui kondisi terkini keberadaan perusahaan terhadap sumber daya perikanan dan masyarakat pesisir,” ungkapnya.

Hasil observasi mengungkap bahwa aktivitas nelayan di Kawasi dan Soligi masih tetap berjalan aktif. Di Desa Soligi, misalnya, terdapat kelompok nelayan Tunas Mandiri yang terdiri dari 16 nelayan penuh yang aktif melaut setiap hari, dan 59 nelayan sambilan utama. Sementara di Kawasi, terdapat 23 orang yang menggantungkan hidup sebagai nelayan. Ikan hasil tangkapannya cukup melimpah dengan jenis yang beragam.

“Yang ditangkap nelayan di Desa Soligi adalah ikan tuna dan cakalang. Untuk ikan tuna bisa mencapai 40 kg per perjalanan dan ikan cakalang bisa sampai 7 kg per perjalanan. Sedangkan di Desa Kawasi jenis ikan yang ditangkap adalah Ikan kembung, dolosi, kwe, kerapu, dan kakatua,” jelas Dr. Nebuchadnezzar Akbar, S.Pi., M.Si., Peneliti Fakultas Perikanan dan Kelautan Unkhair.

Salah satu nelayan Desa Soligi, Musahati, turut membenarkan bahwa aktivitas nelayan tetap berjalan dan justru lebih terbantu sejak adanya kerja sama dengan perusahaan.

“Sebelum ada perusahaan, kami menjual ikan ke mana saja kami bisa. Tapi seringkali sebagian dari hasil tangkapan kami ditolak, dan ikannya dikembalikan. Setelah ada perusahaan, setiap kali ada permintaan, meskipun hanya sedikit, misalnya 1 ton atau 200 kg, mereka mengambil semuanya dan langsung membayar. Jadi, secara otomatis, perekonomian kami meningkat,” ungkap Musahati dalam wawancara bersama akademisi Unkhair dan Telapak.

Selain aktivitas melaut, observasi tim peneliti dari Unkhair juga menemukan inisiatif Harita Nickel melalui Salam Kawasi yang berhasil meningkatkan pendapatan nelayan lokal dengan mengembangkan budidaya ikan air tawar.

“Masyarakat yang semula hanya mengandalkan hasil laut kini juga mulai mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar dengan jenis ikan nila dan lele. Hasilnya dijual kepada perusahaan dan masyarakat sekitar,” ujar Prof. Janib.

Hasil observasi tim peneliti Unkhair melaporkan bahwa masyarakat pesisir di Pulau Obi terus beradaptasi di tengah arus pertumbuhan industri. Nelayan tetap aktif melaut, sementara budidaya ikan air tawar sebagai sumber pendapatan tambahan. 

Temuan Unkhair tersebut diperkuat oleh pengakuan Musahati, salah satu nelayan lokal asal Desa Soligi, yang menyatakan bahwa kehadiran perusahaan turut mengangkat perekonomian nelayan. Hal ini terutama karena ada jaminan hasil tangkapan dapat diserap oleh perusahaan. 

“Sebelum ada perusahaan, seringkali sebagian dari hasil tangkapan kami ditolak dan ikannya dikembalikan. Setelah ada perusahaan, setiap kali ada permintaan, meskipun hanya sedikit, misalnya 1 ton atau 200 kg, mereka mengambil semuanya dan langsung membayar. Jadi, secara otomatis, perekonomian kami meningkat,” ungkapnya.

Hasil observasi ini menegaskan komitmen Harita Nickel dalam membangun hubungan yang terbuka dan konstruktif dengan masyarakat sekitar. Perusahaan juga memastikan bahwa kemajuan industri dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.


*Sebagai referensi, Kajian Lingkungan Laut dan Pesisir oleh peneliti dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun Ternate bisa diakses melalui link berikut.