(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Pakar Lingkungan UI Sebut Empat Inovasi Hijau Harita Nickel Layak Jadi Contoh Industri Tambang Nasional

Kategori

:
Sorotan.

05 Desember 2025 | media

detail

Di tengah geliat hilirisasi nikel nasional, Harita Nickel di Pulau Obi, Halmahera Selatan, membuktikan bahwa kemajuan industri dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Bagi Dr. dr. Tri Edhi Budhi Soesilo, M.Si, Akademisi Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia yang telah beberapa kali meninjau langsung kawasan operasi Harita Nickel, kesungguhan itu bukan sekadar jargon, melainkan tercermin nyata di lapangan.

“Saya melihat harmoni antara sektor hulu dan hilir yang terintegrasi dengan baik. Dari pengelolaan air hingga udara, semuanya dirancang secara komprehensif dan saling terhubung,” ujarnya.

Dalam kunjungannya, dr. Budhi menyoroti empat inovasi lingkungan yang menurutnya layak menjadi contoh bagi industri tambang di Indonesia, sebagai berikut:

1. DSTF: Inovasi Pengelolaan Sisa Olahan yang Layak Dipatenkan

Salah satu terobosan penting Harita Nickel adalah penerapan Dry Stack Tailing Facility (DSTF) yaitu teknologi pengelolaan Sisa Hasil Pengolahan (SHP) bijih nikel dengan cara menekan kadar air tailing hingga menjadi padat. Metode ini mengurangi risiko pencemaran air dan memperluas pemanfaatan kembali material untuk penimbunan.

“DSTF ini patut dipatenkan. Inovasi seperti ini tidak hanya aman secara teknis, tapi juga menunjukkan komitmen terhadap keberlanjutan,” ujar dr. Budhi.

2. Reklamasi Berbasis Riset: Slag Jadi Media Tanam yang Subur

Harita Nickel juga menunjukkan langkah maju dalam pemulihan lahan pascatambang. Tidak berhenti pada kewajiban administratif, tim lingkungan perusahaan melakukan berbagai uji coba untuk mencari komposisi media tanam terbaik.

Percobaan dilakukan dengan mencampur tanah penutup (overburden) dan terak nikel (slag) dalam berbagai perbandingan guna meningkatkan kesuburan tanah reklamasi.

“Pendekatan ini menunjukkan kemauan untuk belajar dan berinovasi. Ini bukan sekadar reklamasi formalitas, tapi proses ilmiah yang terus dievaluasi,” kata dr. Budhi.

3. Konservasi Mata Air Kawasi dan Danau Karo: Sistem Cepat Tanggap untuk Menjaga Kehidupan

Air menjadi perhatian utama dalam tata kelola lingkungan Harita Nickel. Setiap tetes air dari area tambang dipastikan melewati proses pengolahan sebelum dialirkan kembali ke lingkungan.

Bahkan ketika dilakukan pemantauan di sumber air masyarakat di Mata Air Kawasi dan Danau Karo, hasilnya menunjukkan kondisi air yang baik dan terjaga.

“Saya melihat mekanisme quick response yang sangat efektif. Begitu ada potensi masalah, semua departemen langsung berkoordinasi agar masyarakat tidak dirugikan. Ini bentuk tanggung jawab yang nyata,” tegasnya.

4. Udara Bersih 24 Jam: Pemantauan Emisi Real-Time 

Selain tanah dan air, kualitas udara juga mendapat pengawasan ketat. Harita Nickel menerapkan sistem pengendalian emisi dengan teknologi Electrostatic Precipitator (ESP) dan Flue Gas Desulfurization (FGD) untuk menekan polutan dari aktivitas pabrik.

Seluruh parameter udara dipantau secara real-time selama 24 jam, dengan sistem alarm otomatis yang aktif jika melewati ambang batas.

“Pengendalian emisi seperti ini jarang saya temukan di sektor industri. Ini wujud nyata tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat,” ujar dr. Budhi.

Bagi dr. Budhi, keberlanjutan bukan hanya soal hasil akhir, tetapi tentang konsistensi dalam proses. Pencatatan rutin, kolaborasi lintas departemen, serta kesiapan untuk terus memperbaiki diri menjadi fondasi penting bagi industri yang bertanggung jawab.

Ia menutup pandangannya dengan refleksi yang menggugah: “Belum ada yang sempurna, tapi yang saya lihat di sini adalah kesungguhan. Dan dari kesungguhan itulah lahir inovasi yang berkelanjutan.”

Harmoni antara hilirisasi dan kelestarian lingkungan yang tercermin dari praktik operasional Harita Nickel di Pulau Obi menjadi bukti bahwa masa depan industri nikel Indonesia bisa dan seharusnya dibangun di atas fondasi tanggung jawab ekologis dan inovasi berkelanjutan.