
Bulan suci Ramadan tidak menyurutkan komitmen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di area operasional Harita Nickel. Semangat beribadah justru berjalan selaras dengan prinsip kerja aman dan produktif. Meski demikian, penyesuaian jam tidur dan pola makan menuntut kewaspadaan ekstra. Perubahan pola tidur dan makan selama Ramadan dapat meningkatkan risiko fatigue (kelelahan kerja) yang menjadi salah satu pemicu utama insiden keselamatan.
Mengusung semangat "Satu Harita, Saling Menjaga", keselamatan merupakan tanggung jawab mutlak bersama. Harita Nickel secara proaktif menerapkan mitigasi terpadu untuk memastikan setiap pekerja tetap bugar dan aman selama menjalankan ibadah puasa.
Waspadai Bahaya Laten Microsleep
Health Management Lead Doctor Harita Nickel, dr. Van Satrio Wibowo, menjelaskan bahwa perubahan ritme sirkadian tubuh selama bulan puasa perlu dikelola dengan kedisiplinan tinggi.
Lebih lanjut, dr. Van mengingatkan bahwa kurangnya waktu istirahat sangat berisiko memicu microsleep. Ancaman tertidur sesaat ini sangat fatal, sebab hilangnya kesadaran sepersekian detik saja bisa membuat operator kehilangan kendali atas alat berat dan memicu kecelakaan serius.
"Tubuh sebenarnya memberikan sinyal saat fatigue menyerang, seperti kantuk berat, mata perih, sering menguap, hingga hilangnya fokus dan melambatnya reaksi," pungkas dr. Van.
Untuk mencegah hal tersebut, dr. Van merekomendasikan tiga pilar utama bagi para pekerja:
-
Manajemen Tidur: Pastikan durasi tidur 6–8 jam. Hindari begadang, dan bagi pekerja shift malam, maksimalkan waktu tidur siang sebelum bertugas.
-
Nutrisi Seimbang: Konsumsi karbohidrat kompleks (nasi merah atau roti gandum), protein, sayur, dan buah saat sahur. Hindari makanan berminyak dan batasi asupan kafein di malam hari demi menjaga kualitas tidur.
-
Pola Hidrasi 2-4-2: Cegah dehidrasi dengan rumus 2 gelas air saat berbuka, 4 gelas pada malam hari, dan 2 gelas ketika sahur.
"Jika pekerja merasakan gejala fatigue saat bertugas, prosedur K3 kami sangat jelas, yaitu segera hentikan unit di tempat yang aman, beristirahatlah, dan laporkan kepada pengawas," tegasnya.
Tim medis sedang melakukan Tes Tanda Tanda Vital (TTV) dan cek darah lengkap terhadap para karyawan.
Disiplin Fit to Work
Rekomendasi medis tersebut diterjemahkan menjadi benteng pertahanan yang solid di lapangan. OHS Superintendent PT Halmahera Persada Lygend, Syarif Hadi Fatullah, menekankan bahwa mitigasi fatigue adalah prosedur wajib sebelum aktivitas operasional dimulai.
"Standar keselamatan tidak mengenal kompromi. Sebagai langkah mitigasi proaktif, kami rutin melakukan fatigue check di lapangan guna memastikan status Fit to Work (layak kerja) setiap individu," ujar Syarif.
Sebelum memulai shift, pekerja mengikuti briefing dan melakukan penilaian mandiri (self-assessment) yang mencakup evaluasi kecukupan jam tidur, kondisi fisik (bebas dari pusing atau lemas), dan kesiapan mental untuk fokus bekerja serta tes alkohol bagi yang tidak berpuasa.
"Satu detik kelengahan bisa berdampak besar pada nyawa dan kelancaran operasional. Jika merasa tidak fit, jangan memaksakan diri; segera lapor ke pengawas atau tim medis. Puasa tetap jalan, operasi tetap aman. Mari lindungi diri dan tim agar selamat sampai di rumah," imbaunya.
Penerapan sistem keselamatan yang ketat selama Ramadan membuktikan bahwa operasional dan perlindungan pekerja dapat berjalan selaras. Bagi Harita Nickel, keselamatan adalah nilai fundamental untuk memastikan setiap pekerja terlindungi dan dapat kembali kepada keluarga dengan selamat.
Simak tips mencegah fatigue saat puasa melalui video ini


