(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Membangun Tata Kelola Energi yang Lebih Sistematis melalui EnMS

Kategori

:
Lingkungan & K3.

24 Juni 2026 | media

detail

Dalam operasi dengan kebutuhan energi tinggi, pengelolaan energi yang terukur menjadi faktor penting untuk menjaga efisiensi, keandalan operasional, serta mendukung target dekarbonisasi perusahaan. Di Harita Nickel, kebutuhan energi menopang berbagai lini operasional utama, mulai dari aktivitas penambangan, pengolahan, hingga pembangkitan listrik di Pulau Obi, Halmahera Selatan. 

Sepanjang 2025, Harita Nickel mencatat total konsumsi energi sebesar 113.191.654 GJ, di mana energi sebesar 38.937.906 GJ di antaranya dihasilkan dari Inisiatif Energi Berkelanjutan (SEI) yang terdiri dari 64,7% energi baru dan 35,3% energi terbarukan. Dalam periode yang sama, perusahaan juga menjalankan berbagai inisiatif energi berkelanjutan, termasuk pemanfaatan biodiesel, pengembangan sistem solar photovoltaic (PV), pemanfaatan panas sisa proses pabrik asam, penggunaan kendaraan listrik di area operasional, serta pemanfaatan gasifikasi batubara.

Dari sisi operasional, penggunaan energi yang lebih efisien dapat membantu menekan biaya, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan visibilitas terhadap pola konsumsi energi di setiap area kerja. Sementara dari sisi lingkungan, optimalisasi energi yang dilakukan secara tepat turut berkontribusi pada upaya pengurangan emisi karbon dari aktivitas operasional. 

Demi mencapai target pengelolaan energi yang terstruktur dan tepat sasaran, Harita Nickel terus memperkuat pengelolaan energi melalui implementasi Energy Management System (EnMS) yang berbasis pada ISO 50001 sebagai bagian dari Peta Jalan Dekarbonisasi (Decarbonization Roadmap) perusahaan. Dalam penerapannya, implementasi EnMS di Harita dilaksanakan secara bertahap.

Implementasi EnMS juga menjadi bagian dari target jangka menengah Harita Nickel dalam peta jalan dekarbonisasi. Perusahaan menargetkan penurunan emisi GRK sebesar 30% pada 2032 melalui peningkatan efisiensi energi, optimasi bauran energi, serta pemanfaatan sumber energi non-fosil yang lebih luas. Pada praktiknya, target ini diukur berdasarkan baseline tahun 2024 untuk fasilitas lama. Sedangkan untuk fasilitas yang baru dibangun, pengukuran akan dilakukan setelah fasilitas tersebut berjalan dengan kapasitas penuh. 

“Pelaksanaan dilakukan secara bertahap, dimulai dengan peningkatan kesadaran melalui sesi pelatihan, dilanjutkan dengan identifikasi kesiapan untuk menetapkan baseline dan target, serta persiapan perbaikan berkelanjutan untuk bidang operasional,” jelas Zahedi Zakaria, ESG Transformation Manager Harita Nickel.

Langkah awal ini dijalankan pada tahun 2025 dengan Harita Nickel melaksanakan Level 1 Energy Audit di area pertambangan, smelter, dan refinery. Audit ini dilakukan sebagai penilaian awal sebelum melakukan analisis penggunaan energi yang lebih mendalam dengan EnMS.

Cakupan implementasi EnMS sendiri dimulai dari area operasi penambangan pada tahun 2025, yang selanjutnya diperluas pada tahun 2026 hingga ke area smelter dan pembangkit listrik. Melalui inisiatif yang menjangkau area-area utama operasional ini, Harita Nickel dapat memetakan penggunaan energi dan mengidentifikasi peluang efisiensi di setiap area tersebut.

Momentum ini kemudian berlanjut pada Mei–Juni 2026, di mana perusahaan melaksanakan Program Pelatihan EnMS Awareness and Gap Assessment. Kegiatan pelatihan yang berlangsung selama satu minggu ini melibatkan peserta dari berbagai fungsi operasional seperti Departemen Produksi, Power Plant, Maintenance, hingga Health, Safety, & Environment (HSE), dan Human Resources (HR). Dalam rangkaian agenda ini juga termasuk executive briefing bagi jajaran pimpinan operasional guna menyelaraskan dukungan strategis demi inisiatif ini.

“Dalam sesi pelatihan, para peserta diperkenalkan pada dasar-dasar manajemen sistem, regulasi terkait, serta persyaratan ISO 50001:2018. Selain memberikan pengetahuan teknis, pelatihan ini juga memperkuat pemahaman lintas fungsi terkait bagaimana pengelolaan energi dapat diintegrasikan ke dalam aktivitas operasional sehari-hari,” tambah Zahedi.

Dari proses ini, perusahaan dapat mengidentifikasi area dengan konsumsi energi yang tinggi, menemukan inefisiensi yang sebelumnya belum terukur, dan memetakan peluang optimasi energi.

Pendekatan ini memperkuat langkah-langkah yang telah berjalan sebelumnya, di mana sepanjang 2025 perusahaan mencatat pengurangan dan penghindaran emisi sebesar 3.151.013 tCO₂e melalui berbagai inisiatif energi yang terukur. 

Hasil dari pelatihan dan identifikasi kesiapan ini selanjutnya akan menjadi dasar dalam penyusunan target kinerja energi, pengembangan action plan efisiensi, serta integrasi indikator energi ke dalam proses evaluasi operasional. Melalui langkah ini, Harita Nickel terus membangun kapabilitas organisasi dalam mengelola energi secara lebih disiplin, terukur, dan berkelanjutan sebagai bagian dari upaya mendukung operasi yang lebih efisien dan rendah karbon. 

 

Untuk mengetahui lebih lanjut terkait inisiatif keberlanjutan dan peta dekarbonisasi Harita Nickel, silakan akses Laporan Keberlanjutan 2025 di link ini.