.jpg&w=3840&q=75)
Pengelolaan tailings dari proses High Pressure Acid Leaching (HPAL) tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga bagaimana fasilitas dirancang, dioperasikan, dan diawasi secara konsisten. Pendekatan yang tepat membutuhkan pemahaman terhadap karakteristik lingkungan, tata kelola yang kuat, serta kompetensi untuk memastikan pengelolaan berjalan aman dan bertanggung jawab.
Perspektif tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam webinar “Indonesia's Nickel Tailings: Can Governance Catch Up Before the Waste Does?” yang diselenggarakan oleh World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Energy Shift Institute. Dalam forum tersebut, ESG Transformation Manager Harita Nickel, Zahedi Zakaria, berbagi pengalaman perusahaan dalam mengelola tailings HPAL melalui perpaduan teknologi, tata kelola, dan peningkatan kompetensi.
Seiring berkembangnya industri nikel berbasis HPAL, pengelolaan tailings menjadi aspek penting untuk memastikan kegiatan operasional berjalan aman sekaligus meminimalkan risiko terhadap lingkungan. Sebagai material sisa hasil pengolahan, tailings memerlukan sistem pengelolaan yang mampu memberikan perlindungan dalam jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang diterapkan Harita Nickel adalah Dry Stack Tailings Facility (DSTF). Melalui metode ini, kadar air dalam tailings dikurangi melalui proses penyaringan sehingga material dapat disimpan dalam bentuk padatan yang lebih stabil. Pendekatan tersebut membantu mengurangi potensi risiko lingkungan, mendukung penggunaan kembali air hasil filtrasi dalam proses industri, serta meningkatkan stabilitas fasilitas penyimpanan.
Menurut Zahedi, keberhasilan pengelolaan tailings tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh bagaimana teknologi tersebut diterapkan sesuai kondisi wilayah operasional.
"Pengelolaan tailings yang bertanggung jawab tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh bagaimana teknologi tersebut dirancang dan dioperasikan sesuai dengan karakteristik lingkungan dan kondisi lokal. Karena itu, penguatan tata kelola dan kompetensi perlu berjalan beriringan," ujar Zahedi.
Ia menambahkan, setiap wilayah memiliki karakteristik geologi, hidrologi, dan lingkungan yang berbeda. Karena itu, pendekatan pengelolaan tailings perlu disesuaikan dengan kondisi setempat agar memberikan tingkat keamanan dan efektivitas yang optimal.
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian WRI Indonesia yang membandingkan regulasi nasional dengan sejumlah standar internasional, termasuk International Finance Corporation (IFC) Performance Standards, Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), dan Responsible Minerals Initiative (RMI). Kajian tersebut menekankan pentingnya penguatan tata kelola dengan tetap mempertimbangkan kondisi lokal.
Dalam webinar tersebut, WRI Indonesia juga memberikan apresiasi terhadap penerapan DSTF di area operasional Harita Nickel di Pulau Obi.
"Hanya sedikit perusahaan di Indonesia yang memiliki fasilitas tailings seperti Harita Nickel. Saya memberi apresiasi besar kepada Harita. Berdasarkan kinerjanya, ini merupakan salah satu praktik terbaik penerapan Dry Stack Tailings Facility di Indonesia," ujar Decarbonisation Analyst WRI Indonesia, David Purba.
Bagi Harita Nickel, apresiasi tersebut menjadi dorongan untuk terus memperkuat pengelolaan tailings melalui evaluasi berkelanjutan, peningkatan kompetensi, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Perusahaan meyakini bahwa pengelolaan tailings bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang bagaimana setiap proses dijalankan secara aman, terukur, dan bertanggung jawab.


