(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

KUSO: Solusi Harita Nickel Ubah Sisa Makanan Jadi Pupuk Organik

Kategori

:
Lingkungan & K3.

07 Desember 2025 | media

detail

Harita Nickel mengoperasikan fasilitas hilirisasi nikel di Pulau Obi dengan dukungan lebih dari 23 ribu tenaga kerja. Aktivitas operasional dan konsumsi harian yang masif menghasilkan volume sampah organik yang tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah ini dapat menimbulkan bau, menghasilkan gas metana, serta berpotensi mencemari tanah dan air di sekitar area operasi.

Menjawab tantangan tersebut, Harita Nickel mengembangkan KUSO (Kelola Ulang Sampah Organik), sebuah inisiatif PT Trimegah Bangun Persada Tbk untuk mengubah sisa makanan menjadi pupuk organik sebagai bagian dari penerapan prinsip ekonomi sirkular di Pulau Obi.

Menariknya, nama KUSO tidak hanya menggambarkan proses kelola ulang sampah organik, tetapi juga terinspirasi dari satwa endemik Pulau Obi, Kuskus Obi, yang secara  lokal dikenal dengan nama kuso. Satwa marsupial nokturnal ini menjadi simbol keharmonisan dan keunikan hayati pulau Obi, sekaligus mengingatkan bahwa setiap langkah pengelolaan lingkungan selalu berkaitan dengan upaya menjaga kehidupan.

“KUSO kami mulai pada Maret 2024 dari pengolahan sampah organik kantin karyawan. Kini, program ini memberi dampak nyata dengan total sekitar 7,4 ton sampah organik yang telah diolah hingga November 2025,” jelas Jr. Environment Compliance Engineer Harita Nickel, Imam Agus Faisyal. Ia menambahkan bahwa pemilahan sampah sejak dari sumber menjadi kunci keberhasilan pengolahan kompos di Rumah Kompos CAKRA.

Rumah Kompos CAKRA adalah salah satu tempat pengolahan sisa makanan menjadi kompos melalui proses organik di lokasi Harita Nickel. Fasilitas ini sendiri dipilih selaras dengan tema pewayangan, di mana “Cakra” melambangkan perlindungan dan keseimbangan. Filosofi itu diterjemahkan menjadi misi memutar kembali siklus alam dengan mengubah sisa makanan menjadi sumber daya baru yang bermanfaat.

 

Setibanya di Rumah Kompos CAKRA, sampah organik dicacah dan dicampur dengan serbuk kayu atau daun kering untuk menjaga rasio karbon dan nitrogen tetap seimbang. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke komposter tertutup dan diberi Mikro Organisme Lokal (MOL) sebagai bioaktivator. Selama proses pengomposan, terjadi peningkatan suhu sebagai bagian dari aktivitas mikroorganisme yang bekerja menguraikan material organik.

“Proses pengomposan dilakukan secara aerob dan membutuhkan pembalikan rutin untuk menjaga aliran oksigen dan kelembapan,” ujar Imam.

Hingga November 2025, Rumah Kompos CAKRA telah mengolah sekitar 7,4 ton sampah organik. Sekitar 60 persen di antaranya menjadi sekitar 4,4 ton kompos padat, sementara pupuk cair yang dihasilkan berkisar 370-741 liter. Seluruh produk organik ini dimanfaatkan untuk pemeliharaan ruang hijau, nursery, dan reklamasi di area operasi perusahaan.

Sr. Environment Compliance Engineer Harita Nickel, M. Saifullah Nijar, menegaskan bahwa KUSO merupakan langkah awal menuju implementasi pengelolaan sampah organik yang lebih luas. “Kami berharap program ini dapat direplikasi secara mandiri di unit-unit bisnis lainnya, sehingga manfaatnya semakin besar,” ungkapnya.

KUSO melengkapi inisiatif ekonomi sirkular Harita Nickel lainnya, termasuk pemanfaatan botol bekas sebagai biofilter Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL), konversi sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif, dan penggunaan minyak jelantah sebagai pengganti batubara di fasilitas smelter. Rangkaian upaya ini menegaskan komitmen perusahaan untuk mengurangi sisa hasil pengolahan, memperkuat efisiensi sumber daya, dan menjaga keberlanjutan lingkungan di Pulau Obi.