
Aroma ikan bakar, sangrai kenari, dan kuah kuning memenuhi kawasan permukiman Desa Kawasi dan Soligi di pulau Obi. Di dapur sederhana, perempuan lokal mengolah hasil laut dan pangan khas Obi menjadi sajian yang kaya rasa sekaligus sarat cerita identitas daerah.
Suasana itu hadir dalam Festival Masak 2026 bertajuk “Perempuan Berkarya, Kuliner Mendunia: Kreasi Masakan dan Kudapan (kue) Khas Obi”. Sebanyak enam kelompok perempuan dari Kawasi dan Sepuluh kelompok dari Soligi, masing-masing beradu kreativitas menyajikan hidangan khas daerah. Mulai dari papeda, ikan kuah kuning, kasbi santan, gohu ikan, hingga kudapan (kue) berbahan sagu dan kenari.
Keseruan Festival Masak 2026 di Desa Soligi.
Lebih dari sekadar kompetisi, kegiatan ini menjadi ruang bagi perempuan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus melihat potensi yang dekat dengan keseharian mereka. Ikan, sagu, kasbi, rempah, dan kenari bukan hanya bagian dari tradisi kuliner, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Deputy Department Head of Technical Support Harita Nickel, Amirudin, yang turut menjadi juri, mengatakan pengembangan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan pertumbuhan perusahaan. Kekayaan kuliner lokal, menurutnya, dapat menjadi salah satu pintu untuk mendorong kemandirian masyarakat.
“Pertumbuhan perusahaan harus berjalan beriringan dengan masyarakat. Kearifan lokal seperti kekayaan kuliner dan rempah khas Obi dapat dikembangkan menjadi potensi yang memberi manfaat sekaligus mendorong kemandirian masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Pemerintah Desa Kawasi, Bambang Bakir. Ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi berkembang menjadi ruang untuk memperkenalkan potensi dan kearifan lokal desa Kawasi dan juga soligi.
“Jangan berhenti hanya sebagai ajang lomba. Kami berharap kegiatan seperti ini terus dikembangkan agar potensi dan kearifan lokal Kawasi semakin dikenal,” katanya.
Manfaat kegiatan ini juga dirasakan langsung oleh peserta. Tina, salah satu peserta yang meraih juara pertama, menyebut acara ini menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga.
“Yang tadinya hanya di rumah, sekarang kami punya kegiatan dan bisa berkumpul. Ibu-ibu yang sebelumnya belum akrab jadi saling mengenal,” ujarnya.
Melalui olahan pangan lokal, perempuan Obi menemukan ruang berkarya sekaligus membuka peluang usaha. Kuliner Obi kini bukan sekedar hidangan di meja makan, melainkan kekayaan daerah yang siap diperkenalkan lebih luas.
Hidangan yang disiapkan untuk dinilai juri dalam Festival Masak 2026 di Desa Kawasi.
Dalam ajang ini, kelompok Mina Kita meraih Juara 1, Al Hijrah Juara 2, sementara Resep Rahasia dan Sapa Ramadan meraih Juara 3 bersama. Pemuda Putri Kawasi dan UKM Propala masing-masing meraih Harapan 1 dan Harapan 2.
Sementara di desa Soligi Juara Masakan Tradisional juara 1, Majelis Taklim Nurul Hidayah, Juara 2, Usaha Wanita Tani, Juara 3, Asri, harapan 1, Kompak, harapan 2, Emak-emak.
Dan juara Kudapan atau Kue Tradisional, juara 1, Mawar A, juara 2, Majelis Taklim Nurhidayah B, juara 3, Ubur-ubur, harapan 1, Indah, harapan 2, Semangat Wanita Tani.

