(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Kesenian Ngibi, Warisan Budaya Buton untuk Generasi Muda Soligi

Kategori

:
Sorotan.

02 Juni 2026 | media

detail

Suara rentak kendang menyatu dengan alunan gong, memecah keheningan malam di pesisir Pulau Obi. Dua hari usai gema takbir Iduladha 1447 Hijriah, halaman Kantor Desa Soligi berubah menjadi panggung peradaban. Ratusan warga memusatkan perhatian pada gelanggang tempat akar identitas mereka dirawat.

Malam itu, masyarakat Desa Soligi tengah menggelar Pagelaran Kesenian Ngibi. Sebuah tradisi turun-temurun dari tanah Buton, Sulawesi Tenggara, yang dibawa oleh leluhur mereka melintasi lautan hingga mengakar kuat di Obi.

Sebelum tarian dimulai, suasana riuh mendadak hening. Imam desa memimpin doa, menegaskan bahwa Tari Ngibi berkelindan erat dengan spiritualitas Islam yang dianut masyarakat setempat. Setelahnya, tokoh adat membuka gelanggang lewat hentakan pencak silat, seolah meretas jalan bagi generasi penerus di bawahnya.

Arena kemudian diisi oleh Tari Cungka yang dibawakan penari perempuan, melambangkan siklus awal kehidupan manusia di dalam kandungan. Pesan ini disambung dengan Tari Ngibi, tarian berpasangan yang merepresentasikan syukur atas ditiupkannya roh ke dalam raga. Dalam gerak gemulai Ngibi, penari laki-laki pantang menyentuh penari perempuan, sebuah simbol penghormatan tertinggi bagi perempuan sebagai perawat kehidupan.

Tokoh adat Desa Soligi, Imam La Puasa, menjelaskan bahwa setiap gerak dan tahapan dalam kesenian Ngibi mengandung pesan moral, nilai kehidupan, serta jejak sejarah perjalanan masyarakat Buton yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Ngibi bukan sekadar hiburan. Di dalamnya ada nasihat, ada sejarah, dan ada identitas yang diwariskan oleh leluhur kami. Karena itu, tradisi ini harus terus dijaga agar anak cucu tidak melupakan asal-usulnya,” ujarnya.

Jika dahulu Tari Ngibi menjadi wujud syukur pascapanen raya, kini kesenian tersebut bertransformasi mewarnai berbagai perhelatan sosial, termasuk perayaan Iduladha.

Usai perenungan filosofis lewat tari, gelanggang kembali bergemuruh. Giliran anak-anak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) unjuk gigi beradu pencak silat. Diiringi sorak-sorai ratusan warga, adu ketangkasan ini hadir bukan sebagai ajang untuk saling melukai, melainkan simbol sportivitas dan semangat ksatria generasi muda Soligi.

 

Harmoni Industri dan Kearifan Lokal

Bagi Kepala Desa Soligi, Madaisi La Siriali, kemeriahan malam itu adalah wujud perjuangan melawan abrasi budaya.

"Kegiatan yang didukung Harita ini merupakan kerja sama pemerintah desa dan tokoh adat. Mari kenali dan lestarikan identitas kita, untuk membina generasi muda agar terus menjaga budayanya," tuturnya.

Pagelaran ini memang tidak berdiri sendiri. Ia terwujud berkat kolaborasi masyarakat dengan entitas industri setempat, Harita Nickel. Dukungan ini memberikan potret nyata bahwa laju industri hilirisasi tidak lantas mencabut sebuah daerah dari akar kulturalnya. Kehadiran industri justru mengambil peran sebagai katalisator yang memastikan kearifan lokal tetap bernapas.

Menegaskan komitmen tersebut, Community Relation Supervisor Harita Nickel, Wigit Yan Sukmawan, menyampaikan bahwa kehadiran perusahaan bersandar pada penghormatan terhadap kearifan lokal.

"Bagi kami, merawat kelestarian budaya sama pentingnya dengan menjalankan laju operasional. Tari Ngibi adalah identitas luhur masyarakat Soligi. Perusahaan hadir bukan sekadar menggugurkan kewajiban sosial, tetapi ingin memastikan keberlangsungan tradisi ini ke tangan generasi penerus," ujar Wigit.

Geliat hilirisasi memang menjanjikan transformasi ekonomi, tetapi investasi sesungguhnya juga mencakup upaya merawat modal sosial. 

Malam semakin larut, namun gelanggang tak kunjung sepi. Diiringi tabuhan gong, langkah-langkah kecil anak-anak itu masih lincah menari dan bersilat. Mereka tak sekadar unjuk ketangkasan gerak, melainkan tengah menyambut tongkat estafet warisan budaya Buton. Di tangan generasi muda Soligi inilah, peninggalan leluhur itu dirawat teguh, memastikan detaknya tak akan pernah berhenti berdenyut di pesisir Obi.