
Keberhasilan reklamasi lahan pascatambang tidak hanya ditentukan oleh proses penanaman, tetapi juga dimulai dari pemilihan jenis tanaman yang tepat dan sesuai dengan karakteristik lahan.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama peneliti dan pakar reklamasi lahan pascatambang Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Irdika Mansur, dalam sharing session bersama tim reklamasi Harita Nickel di kantor pusat Harita Nickel, Jakarta, Jumat (28/8). Kegiatan ini diikuti secara langsung oleh tim di Jakarta dan secara daring oleh tim di Site Obi.
Dalam paparannya, Irdika menjelaskan bahwa tuntutan terhadap pelaksanaan reklamasi terus meningkat. Salah satunya melalui Keputusan Menteri ESDM No. 344 Tahun 2025 yang menetapkan pedoman teknis pelaksanaan reklamasi, termasuk peningkatan standar tutupan tajuk menjadi 90 persen dari sebelumnya 80 persen.
Menurut Irdika, pencapaian target tersebut perlu dipersiapkan sejak tahap perencanaan. Perusahaan perlu menentukan jenis tanaman berdasarkan kondisi lahan pascatambang agar pertumbuhan vegetasi dan pembentukan tutupan tajuk dapat berlangsung optimal.
“Pemilihan jenis pohon yang tepat menjadi penting. Pilihlah jenis yang sesuai dengan lahan dan kebutuhan di area pascatambang nikel,” jelasnya.
Sejumlah jenis pohon cepat tumbuh seperti jabon merah, binuang, cemara, dan leda dapat menjadi pilihan. Selain itu, jenis pohon lokal seperti nyamplung, biti, sungkai, kenari, dan gosale juga dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi lahan.
Irdika juga mendorong pemanfaatan tanaman Multi-Purpose Tree Species (MPTS) yang tidak hanya mendukung reklamasi, tetapi juga memiliki manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pala, nangka, cempedak, dan kemiri menjadi beberapa contoh tanaman yang dapat dipertimbangkan.
Untuk menentukan jenis yang paling sesuai, evaluasi terhadap areal reklamasi menjadi langkah penting. Dari evaluasi tersebut, perusahaan dapat mengidentifikasi jenis pohon yang menunjukkan pertumbuhan baik dan memiliki karakteristik tajuk yang mendukung pembentukan tutupan lahan.
Hasil evaluasi kemudian dapat menjadi dasar untuk menentukan tanaman prioritas dalam produksi bibit, sekaligus memperbarui petunjuk teknis atau SOP reklamasi. Penyesuaian dilakukan secara berkala agar praktik reklamasi tetap relevan dengan hasil evaluasi lapangan dan perkembangan pengetahuan.
Dalam sesi tersebut, Irdika juga mengapresiasi sejumlah inisiatif reklamasi yang telah dilakukan Harita Nickel. Salah satunya adalah pemanfaatan sediment pond untuk mendukung kegiatan reklamasi.
“Umumnya sediment pond dibuat semata-mata untuk mengendalikan sedimentasi. Di Harita, kolam ini dirancang agar sedimennya dapat dipanen dan dimanfaatkan kembali sebagai topsoil. Menurut saya ini sangat cerdas,” katanya.
Sesi berbagi pengetahuan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab yang diikuti oleh peserta di Jakarta maupun di Site Obi. Pembahasan mencakup pilihan tanaman seperti kelapa dan bambu, penggunaan kompos, hingga pengelolaan media tanam di area reklamasi.
Melalui kegiatan ini, Harita Nickel terus memperkuat praktik reklamasi berbasis pengetahuan dan evaluasi lapangan. Kolaborasi dengan pakar dan akademisi menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan strategi reklamasi berkembang selaras dengan ilmu pengetahuan dan ketentuan yang berlaku.


