Hidup Berdampingan dengan Satwa, Harita Nickel Perkuat Kesiapsiagaan Penyelamatan

Kategori

:
Lingkungan & K3.

20 Oktober 2026 | media

detail

Di Pulau Obi, manusia dan satwa liar hidup berdampingan. Perjumpaan dengan satwa liar seperti buaya, ular, atau kuskus dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, Harita Nickel terus meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan Insan Harita agar setiap perjumpaan dengan satwa dapat ditangani secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelatihan Penguatan Kapasitas Pelaksanaan Rescue dan Relokasi Satwa Dilindungi di Wilayah Operasional Pertambangan pada 16–17 Oktober 2026 di Activity Center Site Kawasi. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta dari berbagai unit bisnis Harita Nickel, dengan menghadirkan narasumber dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Maluku Utara, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Maluku Utara, serta Institut Pertanian Bogor (IPB).

Selama dua hari, peserta mendapatkan pembekalan teori dan praktik untuk memperkuat kemampuan menangani satwa liar. Pada hari pertama, BKSDA dan DKP Maluku Utara menyampaikan materi tentang regulasi, pembagian kewenangan, prosedur administrasi, koordinasi dengan instansi terkait, identifikasi risiko, serta penyusunan alur respons internal. Pembekalan ini menjadi dasar agar proses penyelamatan dan relokasi satwa dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

Materi kemudian diperdalam pada hari kedua bersama Prof. Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, M.S., pengajar dari IPB. Peserta mempelajari karakteristik dan perilaku beragam satwa prioritas di Pulau Obi, mulai dari buaya, kuskus Obi, soa-soa, biawak bakau, berbagai jenis burung paruh bengkok, hingga ular maut (death adder).

Materi yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, M.S.
Materi yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir. Burhanuddin Masy’ud, M.S.

Pembelajaran dilanjutkan dengan simulasi praktik lapangan yang mencakup identifikasi satwa, penilaian risiko, teknik penanganan, dan penerapan prinsip keselamatan. Latihan ini membantu peserta menentukan pendekatan yang sesuai dengan karakteristik satwa serta mengambil keputusan secara tepat dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata.

Upaya ini mendapat apresiasi dari Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Ternate BKSDA Maluku Utara, Usman, S.Hut., M.P. Menurutnya, pelatihan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara pemerintah, peneliti, dan pelaku industri dalam mendukung pelestarian satwa liar. “Kekayaan satwa yang ada di Pulau Obi perlu menjadi perhatian kita bersama untuk sama-sama kita jaga dan lestarikan keberadaannya,” ungkap Usman.

Manfaat pelatihan juga dirasakan oleh Fire Safety Foreman Harita Nickel, Firman Rosita, yang sehari-hari beraktivitas di lingkungan dengan berbagai jenis satwa liar. “Program pelatihan ini mengajarkan kita bahwa banyaknya satwa yang kita temui di Pulau Obi perlu penanganan yang tepat, agar mereka tetap bisa terus hidup dan dilestarikan,” jelasnya.

Seluruh Peserta Training Penguatan Kapasitas Pelaksanaan Rescue dan Relokasi Satwa Dilindungi di Wilayah Operasional Pertambangan
Seluruh Peserta Training Penguatan Kapasitas Pelaksanaan Rescue dan Relokasi Satwa Dilindungi di Wilayah Operasional Pertambangan

Pengetahuan yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi peserta untuk memperkuat prosedur di unit kerja masing-masing, membangun koordinasi lintas unit, dan berbagi pengetahuan dengan rekan kerja. Dengan demikian, kesiapsiagaan menghadapi satwa liar dapat menjadi bagian dari budaya kerja yang mengutamakan keselamatan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Bagi Harita Nickel, pengelolaan keanekaragaman hayati adalah bagian dari komitmen untuk menjalankan pertambangan yang bertanggung jawab, agar setiap kehidupan memiliki ruang untuk terus tumbuh. Dari Pulau Obi, Insan Harita terus belajar untuk bekerja dengan aman dan menghargai kehidupan satwa liar. Inilah #CaranyaHarita menyelaraskan aktivitas operasional dengan kelestarian alam.