Para pemenang Harita Continuous Improvement (HCI) tingkat unit bisnis menghadirkan beragam inovasi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan keselamatan kerja. Selanjutnya, mereka akan bersaing untuk memperebutkan gelar juara di tingkat grup.
Berbagai inovasi tersebut mendapat apresiasi dalam HCI Awarding Night 2025 yang diselenggarakan pada awal Oktober 2026. Solusi yang dikembangkan berangkat dari tantangan nyata di area operasional, mulai dari pengendalian produksi saat hujan hingga efisiensi energi, percepatan perizinan, dan pengelolaan risiko kesehatan pekerja.
Di tambang, tim Departemen Produksi PT Trimegah Bangun Persada (TBP) dan PT Gane Permai Sentosa (GPS), yang dipimpin Fransisco Yustian Mangalik, mengembangkan metode penambangan terkendali saat hujan di Pit Senggigi menggunakan Road Severity Index (RSI). Metode ini membantu mengevaluasi kondisi jalan sebagai dasar penentuan kelayakan operasional.
Pada Oktober–Desember 2025, penerapannya menurunkan jam hilang produksi sebesar 21% dan kehilangan tonase sebesar 27%, setara 60.048 wet metric ton (WMT). Hasil ini menunjukkan potensi pendekatan berbasis data dalam menjaga produktivitas sekaligus mempertimbangkan keselamatan kerja.
Inovasi efisiensi energi dikembangkan PT Megah Surya Pertiwi (MSP) melalui konversi ekskavator diesel menjadi bertenaga listrik. Setelah melalui pengujian teknis dan keselamatan serta pelatihan operator, inovasi ini diproyeksikan menghemat biaya energi sekitar Rp106 juta per unit setiap bulan. Selain efisiensi biaya, penggunaan tenaga listrik juga berpotensi mengurangi emisi operasional.
Sementara itu, PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF) mengembangkan kemandirian pengurusan perizinan ketenagalistrikan melalui inovasi “Transformasi Efektivitas Perizinan Ketenagalistrikan dalam Mendukung Kemandirian Perizinan IUPTLU Terintegrasi”. Inisiatif ini memungkinkan proses perizinan diselesaikan hingga 100 hari lebih cepat, sehingga mendukung kelancaran operasional.
Pada aspek kesehatan kerja, tim BreatheSafe Squad dari PT Halmahera Persada Lygend (HPAL), yang dipimpin oleh Priyo Adi Pamungkas mengembangkan pendekatan pemantauan paparan debu nikel sulfat. Dengan melibatkan 108 Insan Harita, tim mengintegrasikan data kualitas udara dan indikator kesehatan pekerja sebagai dasar pengembangan konsep Integrated Exposure Management System. Sistem ini dirancang untuk memadukan pemetaan risiko, pemantauan paparan, dan deteksi dini secara terintegrasi.
Direktur Utama Harita Nickel, Roy Arman Arfandy, mengapresiasi inisiatif perbaikan yang dikembangkan Insan Harita. “Semangat continuous improvement adalah budaya bersama di Harita Nickel. Kami sangat bangga atas semangat untuk terus berprestasi dari para Insan Harita,” ujarnya.
Ia berharap berbagai inovasi terus diterapkan dan disempurnakan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Berakhirnya tahap kompetisi di tingkat unit bisnis menjadi langkah menuju seleksi berikutnya di tingkat grup. Para pemenang akan kembali berkompetisi dengan membawa inovasi masing-masing untuk menunjukkan solusi terbaik yang dapat memberikan dampak lebih luas bagi operasional Harita Nickel.
Melalui HCI, Insan Harita didorong untuk terus mengidentifikasi tantangan, mengembangkan solusi, dan menyempurnakan proses kerja. Semangat ini menjadi bagian dari #CaranyaHarita dalam membangun budaya perbaikan berkelanjutan untuk operasional yang semakin efektif, efisien, dan aman.


