
Sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati laut, terumbu karang menjadi bagian penting dari ekosistem di sekitar Pulau Obi, Halmahera Selatan. Menyadari hal ini, Harita Nickel menghadirkan inovasi reefcube atau terumbu karang buatan berbentuk modular yang dibuat dari sisa pengolahan nikel berupa fly ash dan slag nikel.
Menariknya, meskipun terbuat dari sisa hasil pengolahan nikel, slag termasuk limbah non-B3 atau bukan Bahan Berbahaya dan Beracun. Berdasarkan uji karakteristik, material ini tidak bersifat toksik sehingga aman digunakan di laut. Justru mineral di dalamnya mendukung pertumbuhan karang dan biota laut.
Slag nikel yang digunakan sebagai bahan utama reefcube, inovasi terumbu karang buatan Harita Nickel di perairan Pulau Obi.
Penelitian jangka panjang Departemen Environment Harita Nickel yang diterbitkan di dalam jurnal DEPIK Universitas Syiah Kuala Aceh, dengan judul “Coral Recruitment Enhancement in Fish Shelter Media Composed of Fly Ash and Nickel Slag on Obi Island, South Halmahera”, menunjukkan bahwa reefcube efektif untuk proses rekrutmen koral, yaitu proses menempelnya larva karang (planula) di permukaan hingga tumbuh menjadi koloni baru.
Windy Prayogo, Environmental Marine Compliance Manager Harita Nickel, menjelaskan bahwa sejak 2020 pihaknya telah memproduksi reefcube, memasang 1.696 unit, dan terus memantau efektivitasnya. “Kami melakukan pemantauan secara rutin untuk mencatat perkembangan reefcube yang sudah kami tempatkan, termasuk pertumbuhan karang alami,” terangnya.
Hasil penelitian selama dua tahun menunjukkan pertumbuhan karang pada reefcube mencapai 2,4–12,9 sentimeter, terutama pada genera Isopora dan Pocillopora. Lebih jauh, reefcube berhasil menarik 128 spesies ikan karang dan biota laut lainnya, menjadikannya ekosistem buatan yang hidup.
Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa reefcube yang diproduksi dengan fly ash dan slag nikel memberikan fondasi yang kuat untuk proses perekrutan karang yang berhasil menciptakan habitat baru bagi keanekaragaman hayati laut di Pulau Obi. Ketika diproses dengan bertanggung jawab, sisa hasil pengolahan dari pengolahan nikel bisa memberikan dampak positif kepada lingkungan laut Obi.
“Reefcube terbukti efektif sebagai media rekrutmen karang karena terbuat dari fly ash dan slag nikel, yang kaya kalsium, magnesium, dan silika. Saat terendam, mineral ini menciptakan kondisi ideal bagi larva karang untuk menempel dan tumbuh.” kata Prasari Riski Hutami, Penyelam Tim Pemantauan Laut, Departemen Environment Harita Nickel.
Lebih dari sekadar solusi teknis, reefcube menunjukkan bahwa praktik pertambangan bisa bersinergi dengan konservasi laut. Slag nikel tidak lagi berakhir sebagai bahan yang tidak terpakai, melainkan mengambil peran baru dalam mendukung keanekaragaman hayati laut, khususnya di Pulau Obi. Inisiatif ini menunjukan bahwa slag nikel, bila diolah dengan bijak, bisa berubah menjadi fondasi baru bagi keanekaragaman hayati laut sekaligus bukti komitmen Harita Nickel pada keberlanjutan.


