(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Harita Nickel Tekankan Kolaborasi ESG di International Battery Summit 2025

Kategori

:
Lingkungan & K3.

10 September 2025 | Admin

detail

Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi, menegaskan komitmennya pada praktik berkelanjutan dalam ajang International Battery Summit (IBS) yang digelar pada 5-6 Agustus di Jakarta. Mengusung tema "Embedding ESG Across the Battery Value Chain - From Mining to Recycling", acara ini mempertemukan  industri, akademisi dan pemerintah untuk membahas penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh rantai pasok baterai, dari pertambangan hingga daur ulang.

Dalam diskusi panel ini, Harita Nickel diwakili oleh Zahedi Zakaria, ESG Transformation Manager. Ia menekankan keberhasilan praktik ESG bukan hanya ditentukan oleh regulasi atau teknologi, tetapi juga oleh keterlibatan masyarakat setempat.

“Kami memastikan adanya mekanisme pengaduan masyarakat di wilayah operasional.  ESG menjadi sinergi antara inovasi teknologi, kebijakan yang jelas dan suara masyarakat sekitar,” ungkapnya.

Zahedi juga memaparkan sejumlah inisiatif Harita Nickel, mulai dari pemantauan emisi karbon, penerapan proses produksi bersih, hingga pemasangan panel surya di area operasional untuk mengurangi jejak karbon. "Fokus kami tidak hanya pada target teknis, tetapi juga pada penciptaan hubungan yang harmonis dengan masyarakat setempat," tegasnya.

Panel diskusi ini juga menghadirkan Dr. Rezal Khairi Ahmad, CEO Nano Malaysia Berhad, yang berbagi wawasan mengenai strategi inovasi Malaysia dalam membangun ekonomi berbasis ESG. Dari dunia akademisi, Indra Perdana dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan peran dunia pendidikan, dengan mencontohkan riset energi terbarukan yang telah dikembangkan UGM sejak 2015.

Diskusi ini menegaskan bahwa transisi energi global adalah tanggung jawab kolektif. Industri, akademisi, dan pemerintah harus bersinergi untuk mencapai tujuan dekarbonisasi dunia. Industri menghadirkan praktik nyata, akademisi mendorong inovasi riset, dan regulator menyediakan kerangka kebijakan yang konsisten.

Menutup sesi, Zahedi memberikan pesan khusus bagi para pembuat kebijakan. Ia menekankan pentingnya regulasi nasional yang jelas, stabil, dan terukur. "Industri membutuhkan kepastian regulasi untuk menjaga komitmen ESG secara berkelanjutan. Tanpa konsistensi, akan sulit bagi kita untuk mencapai target global," tegasnya.

Partisipasi Harita Nickel di IBS 2025 dengan tema "Powering the Future: Advancing the Global Energy Transition with Battery Technology” menegaskan komitmen perusahaan dalam mendorong praktik bisnis berkelanjutan dan berkontribusi secara aktif pada transisi energi global, dengan menempatkan ESG sebagai inti dari operasionalnya.