
Komitmen Harita Nickel dalam memberdayakan masyarakat lingkar tambang kembali dibuktikan melalui kelulusan 22 peserta Program Vokasi PELITA (Peningkatan Keahlian Keterampilan Pemuda) angkatan ketiga. Kali ini, program difokuskan pada penguasaan bahasa Mandarin untuk menjawab kebutuhan strategis industri hilirisasi nikel.
Dalam prosesi wisuda yang digelar Kamis (27/11) di Site Harita Nickel Pulau Obi, para lulusan ini resmi mengantongi kompetensi setara HSK 3 (Hanyu Shuiping Kaoshi level 3) setelah menempuh pelatihan intensif selama enam bulan, mencakup 112 sesi atau setara 192 jam pembelajaran.
Deputy Department Head of Technical Support Harita Nickel, Agung Aribowo, menegaskan bahwa program ini dirancang agar masyarakat lokal tidak sekadar menjadi penonton di tengah pesatnya industri nikel, melainkan menjadi pelaku aktif.
“Kami memahami bahwa keberhasilan hilirisasi bertumpu pada SDM yang tangguh. Lulusan vokasi Mandarin ini dipersiapkan menjadi jembatan komunikasi vital di lingkungan kerja yang terintegrasi dengan mitra internasional. Ini adalah nilai tambah strategis bagi putra daerah untuk memasuki pasar kerja global yang kompetitif,” ujar Agung.
Dampak program ini dirasakan langsung oleh Kasman La Jaani (18), pemuda asal Desa Soligi. Menghadapi tantangan ekonomi dan akses medan yang sulit, Kasman sempat hampir menyerah di tengah jalan. Namun, pendampingan intensif dari tim Community Development Harita Nickel berhasil membangkitkan semangatnya hingga berhasil meraih predikat lulusan terbaik kedua.
“Awalnya berat karena jarak dan cuaca, saya sempat ingin berhenti. Tapi dukungan kakak-kakak pendamping dari Harita Nickel membuat saya kembali bangkit. Saya percaya kemampuan bahasa Mandarin ini adalah kunci masa depan yang lebih cerah bagi kami, putra-putri Obi,” ungkap Kasman penuh optimisme.
Apresiasi tinggi datang dari Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Maluku Utara wilayah Halmahera Selatan, Saimah Kasuba. Ia menyebut program ini sebagai terobosan penting dalam dunia pendidikan vokasi daerah.
“Bapak-Ibu patut berbangga, vokasi PELITA bahasa Mandarin di Harita Nickel ini adalah yang pertama di Halmahera Selatan. Kolaborasi seperti inilah yang dibutuhkan untuk melahirkan SDM lokal yang kompeten dan berdaya saing,” tegas Saimah.
PELITA merupakan bagian dari program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) Harita Nickel yang bertujuan untuk meningkatkan SDM lokal melalui pendidikan vokasi.
Sebelum angkatan ketiga ini, program ini telah sukses mencetak tenaga nonskill menjadi tenaga terampil yang tersertifikasi. Sebanyak 14 orang lulusan angkatan pertama kini telah bekerja sebagai operator Wheel Loader dan 28 lulusan angkatan kedua mengoperasikan Overhead Crane di Smelter di salah satu anak usaha Harita Nickel.
Komitmen Harita Nickel dalam sektor pendidikan tidak berhenti pada pelatihan vokasi. Selain PELITA, perusahaan juga menyalurkan beasiswa bagi 100 mahasiswa Obi pada tahun ini, pembangunan infrastruktur sekolah, serta insentif bagi guru bantu. Semua itu sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam menciptakan pendidikan berkualitas.
Ekosistem pendidikan yang dibangun ini bertujuan mencetak SDM lokal yang tidak hanya kompeten secara teknis, namun juga memiliki daya saing tinggi untuk menjawab tantangan industri hilirisasi nikel global yang semakin kompetitif.

