
Harita Nickel kembali berpartisipasi dalam Grand Summit UI SDGs 2025, acara penutup rangkaian UI SDGs Summit yang diselenggarakan oleh BEM Universitas Indonesia. Dalam forum ini, Executive Vice President for Environmental Affairs Harita Nickel, Iwan Syahroni, memaparkan pendekatan perusahaan dalam menjalankan praktik pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi yang bertanggung jawab.
Sebelumnya, Harita Nickel juga berkontribusi sebagai narasumber pada sesi lokakarya untuk kompetisi esai bertema “Zero Waste for a Sustainable Future.” Keterlibatan ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam membagikan perspektif ilmiah terkait isu lingkungan kepada generasi muda.
Dalam paparannya, Iwan menyajikan gambaran komprehensif mengenai operasional Harita Nickel di Pulau Obi yang berlandaskan prinsip pertambangan bertanggung jawab. “Harita Nickel berkomitmen mengintegrasikan tata kelola lingkungan, efisiensi energi, keselamatan kerja, dan tanggung jawab sosial ke dalam seluruh rantai nilai pertambangan dan pemrosesan nikel kami,” ujarnya.
Iwan membedah proses operasional terintegrasi Harita Nickel di Pulau Obi, mulai dari pengolahan feronikel melalui teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) hingga pemrosesan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) melalui High Pressure Acid Leaching (HPAL). Penjelasan ini memberi konteks mengenai peran operasional terintegrasi dalam mendukung rantai pasok baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik, serta mendorong agenda transisi energi global.
Inovasi pengelolaan sisa hasil pengolahan
Sorotan utama sesi ini adalah strategi perusahaan dalam mengelola Sisa Hasil Pengolahan (SHP) agar dapat dimanfaatkan kembali. Iwan menjelaskan bahwa Harita Nickel mengolah slag nikel dari proses smelter RKEF menjadi material bernilai tambah.
“Kami memanfaatkan slag nikel mulai dari pembuatan reefcube untuk media pertumbuhan terumbu karang, material konstruksi, hingga pembenah tanah untuk reklamasi pascatambang,” tambahnya.
Selain itu, SHP dari proses refinery HPAL dikelola melalui Dry Stack Tailing Facility (DSTF). Fasilitas ini mengelola SHP dalam bentuk dry cake (padat/kering), bukan slurry (cair), yang kemudian ditempatkan di area penempatan khusus (placement area) yang aman dan dapat direhabilitasi kembali menjadi lahan hijau.
Menutup sesinya, Iwan menekankan strategi rehabilitasi lahan dan konservasi keanekaragaman hayati yang dilakukan melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi akademis. Partisipasi Harita Nickel dalam forum ini diharapkan dapat membentuk persepsi publik yang objektif bahwa industri nikel Indonesia mampu dikelola secara transparan, berbasis sains, dan berkontribusi positif bagi pembangunan nasional maupun global.


