(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Dari Pulau Obi ke Belém, Jejak Inovasi Harita Nickel di Forum Iklim Dunia

Kategori

:
Sorotan.

01 Desember 2025 | media

detail

Kota Belém yang tenang di tepi Sungai Amazon berubah menjadi pusat perhatian dunia selama ajang Conference of the Parties ke-30 (COP30) berlangsung. Di tengah diskusi global mengenai masa depan energi bersih, Harita Nickel, perusahaan pertambangan dan pemrosesan nikel terintegrasi dan bertanggung jawab, hadir membawa cerita dari Pulau Obi tentang bagaimana integrasi operasi dan teknologi dapat menghadirkan solusi nyata bagi perlindungan lingkungan. 

COP30 merupakan konferensi iklim tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tempat negara-negara berkumpul untuk menegosiasikan dan meninjau komitmen global dalam mengatasi perubahan iklim. Tahun ini, Brasil menjadi ruang dialog penting yang mempertemukan berbagai perspektif tentang transisi energi dan masa depan keberlanjutan. 

Dalam sesi dialog di Pavilion Indonesia, Harita Nickel membagikan pendekatan operasional yang mampu menjawab tantangan emisi sekaligus memaksimalkan potensi mineral strategis Indonesia. Integrasi proses dari penambangan, pengolahan, hingga pemurnian di Pulau Obi menarik perhatian banyak peserta karena membantu mengurangi jejak karbon logistik dan meningkatkan pemanfaatan bijih secara optimal. Pendekatan berbasis teknologi ini sejalan dengan narasi Indonesia mengenai hilirisasi yang lebih bertanggung jawab dan efisien.

Salah satu topik yang memancing banyak diskusi adalah pemanfaatan slag nikel, salah satu sisa hasil pemrosesan (SHP), sebagai bahan konstruksi bernilai tambah. Mulai dari pembangunan infrastruktur, pembenah tanah, hingga aplikasi rehabilitasi lingkungan, inisiatif ekonomi sirkular ini memperlihatkan bagaimana SHP dapat menjadi peluang baru bagi keberlanjutan.

 

“Kami ingin menunjukkan bahwa sisa hasil pemrosesan bukan akhir dari proses, melainkan awal dari peluang baru. Dengan riset yang tepat, slag dapat menjadi material konstruksi yang aman dan bermanfaat. Ini bukan sekadar konsep, tetapi sesuatu yang sudah kami jalankan di lapangan,” jelas Vice President Health, Safety and Environment (HSE) Harita Nickel, Aladin Sianipar.

Kehadiran Harita Nickel di Belém juga membuka ruang percakapan yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan di Pavilion Indonesia. Interaksi yang terjadi selama konferensi menegaskan bahwa inovasi, efisiensi, dan tanggung jawab lingkungan dapat berjalan berdampingan dalam industri nikel Indonesia.

Kunjungan ini bukan sekedar kehadiran dalam forum internasional, tetapi menjadi kesempatan untuk memperlihatkan pendekatan industri yang lebih efisien, transparan, dan berbasis inovasi. Melalui wawasan baru, kolaborasi strategis, dan dorongan untuk terus menyempurnakan praktik keberlanjutan, perusahaan melihat peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai pelaku penting dalam transisi energi dunia.

Harita Nickel percaya bahwa industrialisasi dan kepedulian lingkungan bukan dua hal yang bertolak belakang, melainkan dapat saling menguatkan. COP30 menjadi salah satu pijakan penting menuju masa depan tersebut.