(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Margarita Luwudara: Dulu Menembus Gelap Demi Sekolah, Kini Menjaga Harmoni di Lingkar Tambang

Kategori

:
Insan Harita.

16 Agustus 2026 | media

detail

Hari masih gelap ketika Rita keluar dari rumah. Pakaiannya disembunyikan dalam kantong plastik, sementara tas pun ia belum punya. Pagi itu, tujuannya hanya satu: sampai ke kota kecamatan untuk ujian sekolah.

Margarita Luwudara (Rita), anak keenam dari delapan bersaudara, lahir di keluarga petani Kawasi saat akses pendidikan dan transportasi masih serba sulit. Perjalanan ke kota kecamatan harus ditempuh seharian lewat jalur darat dan laut.

Perjalanannya kian terjal karena Rita berangkat tanpa restu. Saat meminta izin ujian SD pada 2008, jawaban sang ayah meruntuhkan hatinya: “Buat apa capek-capek sekolah? Toh nanti akhirnya sama seperti kakak-kakakmu.”

Ayahnya sekadar khawatir dan trauma bahwa menyekolahkan kakak-kakaknya yang belum membuahkan hasil akan terulang. Meski menangis, Rita enggan mengubur cita-cita masa kecilnya: menjadi pendeta. Ia terinspirasi oleh pemuka agama di desanya yang cerdas dan berkarisma.

Dukungan datang dari sang guru yang menjamin kebutuhan makannya selama ujian. Malam sebelum berangkat, Rita menyembunyikan pakaiannya di bawah pohon terong. Pagi harinya, ia menembus gelap. Keberanian itu berbuah manis saat sang kakak menyusul membawa makanan dan kabar bahwa ayahnya luluh memberi izin, lalu menemani Rita hingga ujian selesai.

Prestasinya perlahan mengubah pandangan ayah. Saat ditanya cita-citanya kelak, ia tegas menjawab, “Saya mau jadi pendeta.” Kalimat itu menyentuh hati ayahnya, terlebih belum ada perempuan di Kawasi yang menjadi pendeta. Pintu dukungan pun terbuka.

Lulus SMA, impiannya kuliah di Ambon terbentur biaya karena sang kakak juga masih menempuh pendidikan. Jalan keluar hadir lewat beasiswa Harita Nickel. Bantuan ini meringankan beban keluarga, sehingga kakaknya bisa fokus menopang biaya hidup Rita.

Merampungkan pendidikan teologi di Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) pada 2016, garis nasib kemudian membawanya bekerja di perusahaan. Pada Oktober 2018, Rita bergabung di Harita Nickel. Meski tak berdiri di mimbar gereja, ilmu teologinya menjadi fondasi krusial.

“Sebab yang diurus sama-sama manusia,” ujarnya.

Kini, Rita berhadapan langsung dengan ragam kebutuhan dan persoalan masyarakat. Pendidikannya mengajarkan empati: melihat persoalan secara jernih, mencari jalan keluar, dan menjadikan kemanusiaan sebagai jangkar pendekatan.

Rita berdiskusi dengan rekan community relations Harita Nickel

Sebagai perempuan lokal pertama di tim CSR, ekspektasi masyarakat kepadanya sangat tinggi. Ketika bantuan tersalurkan, apresiasi mengalir. Namun, saat harapan urung terpenuhi, dinamika sosial kerap berubah arah. Menghadapi hal ini, Rita memilih berpijak pada rasionalitas.

“Saya bukan penjual es krim yang rasanya sama. Saya tidak bisa memuaskan semua orang,” tegasnya.

Bagi Rita, menjadi jembatan antara perusahaan dan warga bukan sekadar mendistribusikan bantuan, melainkan mendengarkan harapan, mengomunikasikan batasan secara transparan, dan merawat hubungan baik.

Dengan dedikasi hampir delapan tahun, Rita kini dipercaya sebagai Community Relations Superintendent. Pencapaian ini adalah buah dukungan guru yang membuka jalan, keluarga yang mendobrak batas, dan perusahaan yang memberi ruang bagi talenta lokal untuk memimpin.

Dulu, ia mengendap-endap keluar rumah di saat gelap demi selembar kertas ujian. Kini, ia berdiri terang benderang di tengah masyarakat yang membesarkannya. Bekal kegigihan dan empati membawanya kembali pada satu hal yang paling ia yakini: memanusiakan manusia.