
Perbaikan tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Sering kali, ia lahir dari pengamatan sederhana di tempat kerja: proses yang bisa dibuat lebih aman, waktu yang bisa dipangkas, atau cara kerja yang bisa dibuat lebih efektif. Dari sanalah Harita Continuous Improvement (HCI) memberi ruang bagi Insan Harita untuk mengubah gagasan menjadi dampak.
HCI menjadi bagian dari upaya membangun budaya continuous improvement di seluruh lini Harita Nickel. Tahun ini, HCI hadir melalui dua kategori, yakni Risk Mitigation & Process Improvement serta Productivity & Cost Efficiency. Keduanya mendorong gagasan yang tidak hanya berorientasi pada efisiensi, tetapi juga keselamatan, pengendalian risiko, kualitas proses, dan keberlanjutan operasional.
Setelah tahap penjurian proposal, HCI kini memasuki tahap presentasi. Di cluster unit bisnis Halmahera Persada Lygend (HPL), sebanyak 10 proposal dari dua kategori telah dipresentasikan. Presentasi berikutnya berlangsung di Halmahera Jaya Feronikel (HJF) dan Trimegah Bangun Persada, sementara untuk Megah Surya Pertiwi (MSP) dilaksanakan pada awal September.
Ketika Perbaikan Menjadi Cara Kerja
HCI bukan sekadar kompetisi untuk memilih ide terbaik. Program ini mendorong Insan Harita melihat pekerjaan secara lebih kritis, memahami akar persoalan, dan mencari solusi yang relevan dengan kebutuhan di lapangan.
“Continuous Improvement harus menjadi proses yang berkelanjutan. Kita perlu terus melakukan improvement dan tidak boleh berhenti beradaptasi,” ujar Kiagus Muhammad Firdaus, Deputy Head of Site PT TBP.
Hal senada disampaikan Agung Aribowo, Deputy Head of Technical Support PT HJF. Menurutnya, kekuatan HCI terletak pada keberanian mengubah persoalan di lapangan menjadi peluang perbaikan.
“Improvement akan lebih bermakna ketika lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Kita mendorong teman-teman tidak hanya menemukan masalah, tetapi juga menghadirkan solusi yang dapat memberikan dampak bagi operasional,” ujar Agung.
Semangat tersebut terlihat dari beragam gagasan yang diajukan peserta. Rivaldo Mogot, misalnya, mengangkat proposal “Optimalization the Cathode Preparation Procedure to Increase Premium Product Cobalt Electrowinning.” Berangkat dari pengalaman di area kerja, ia melihat HCI sebagai ruang untuk mengembangkan proses menjadi lebih optimal.
“Melalui HCI, saya mendapat kesempatan untuk melihat kembali proses yang selama ini kami jalankan dan mencari peluang untuk membuatnya lebih optimal. Harapannya, ide ini dapat memberikan manfaat nyata,” ujar Rivaldo.
Sementara itu, Milah Hudiyah membawa perspektif lingkungan melalui proposal “Eco Life Compost”, yang mengangkat pengolahan sampah organik menjadi kompos sebagai bagian dari gaya hidup ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Melalui Eco Life Compost, saya ingin menunjukkan bahwa sampah organik masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna. Harapannya, gagasan ini dapat mendorong kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan,” ujar Milah.
Dua gagasan tersebut menunjukkan bahwa improvement dapat tumbuh dari beragam kebutuhan, baik untuk meningkatkan proses operasional maupun mendorong praktik yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, HCI bukan semata tentang memenangkan kompetisi, melainkan membangun kebiasaan untuk terus bertanya: adakah cara yang lebih baik untuk melakukannya?
Dari pengamatan, lahir ide. Dari ide, terbuka peluang menghadirkan perubahan nyata.
Inilah #CaranyaHarita untuk terus berbenah, berani beradaptasi, dan mengubah gagasan menjadi nilai tambah menuju Operational Excellence Harita Nickel.


