(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Benteng De Brill, Warisan Budaya yang Terus Dijaga di Kawasan Industri Obi

Kategori

:
Sorotan.

27 Oktober 2025 | media

detail

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas industri hilirisasi nikel di Kawasan Industri Obi, terdapat sebuah peninggalan bersejarah yang masih terus dirawat dengan penuh komitmen oleh Harita Nickel: Benteng De Brill. Benteng kuno ini bukan sekadar monumen, melainkan bukti nyata bagaimana warisan budaya dapat terus dilestarikan di tengah gelombang modernisasi.

Menurut Atlas of Mutual Heritage, Benteng De Brill, yang juga dikenal sebagai Fort De Brill—ada pula yang menyebut Fort Den Brill, adalah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1674. Awalnya terbuat dari kayu, benteng ini kemudian diperkuat dengan batu pada 1678. Tujuan Belanda membangun benteng ini untuk menjaga monopoli rempah-rempah dari pedagang Eropa lain. 

Posisi benteng yang berada di pantai barat Pulau Obi, menurut Menurut W. Ph Coolhas (1923), memungkinkan Kongsi Dagang Belanda (VOC) memantau setiap kapal yang melintas menuju Laut Banda. Dari sana, mereka bisa mengawasi pergerakan dari arah Laut Bacan, Sula, dan Banda. Saat itu, rempah-rempah seperti cengkih dan pala lebih berharga dari emas, komoditas yang menjadi alasan utama bangsa-bangsa Eropa bersaing menguasai Nusantara.

Cagar Budaya yang Dilindungi

Kondisi Benteng De Brill saat ditemukan kembali pada tahun 2007 sangat memprihatinkan. Menurut catatan Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) Jakarta, hanya beberapa sisi benteng yang masih utuh. Sebagian lagi tinggal reruntuhan batu. Keberadaannya tertutup oleh pepohonan dan dikelilingi oleh cerita-cerita mistik yang membuat warga enggan mendekat. 

Cerita senada diungkap Tonny Gultom, Direktur Health, Safety and Environment (HSE) Harita Nickel. Tonny mengungkapkan saat memulai kegiatan penambangan di Pulau Obi pada 2010, pihaknya tak sengaja menemukan Benteng De Brill. Kemudian mencari sumber ke warga sekitar soal latar keberadaan benteng ini.

"Dulu saat kali pertama ditemukan, kondisinya tertutup pepohonan rimbun, warga sini pun takut ke lokasi ini. Namun, kami bersihkan lokasi benteng, dan merawatnya dengan membuat pagar pembatas agar terlindung," kata Tonny.

Setelah penemuan itu, Benteng De Brill kemudian dicatatkan sebagai situs Cagar Budaya di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI Provinsi Maluku Utara. 

“Benteng De Brill tercatat di database kami sebagai situs cagar budaya yang dilestarikan sejak tahun 2010. Dalam pelaksanaannya kami berkolaborasi dengan Harita Nickel selaku pengelola kawasan,” terang Irwansyah, Pamong Budaya di BPK XXI. 

Menjaga Warisan Bersejarah

Saat ini, Benteng De Brill masih berada di lokasi asalnya, yakni di pantai barat Pulau Obi. Lokasinya pun strategis, berada di dekat pelabuhan yang menjadi pintu masuk utama karyawan Harita Nickel. Para karyawan biasa menyebutnya dengan pelabuhan Pantai Selatan (Pansel), mengingat posisinya berada di sebelah selatan pantai Kawasi, lokasi Site Harita Nickel di Pulau Obi. 

Alih-alih menganggap benteng kuno itu sebagai hambatan, Harita Nickel justru melihatnya sebagai kesempatan untuk menunjukkan komitmennya terhadap tanggung jawab sosial dan budaya. Perusahaan tidak hanya membersihkan area benteng, tetapi juga membangun pagar pembatas dan memasang papan informasi untuk mengedukasi masyarakat dan karyawannya tentang nilai sejarah situs tersebut.

Meskipun yang tersisa hanya reruntuhan, benteng ini diperkirakan memiliki dimensi 6x6 meter persegi dengan ketinggian sekitar 3 meter. Di dalamnya, masih terlihat cerukan yang diduga sebagai tempat meriam. Benteng De Brill adalah satu dari lebih dari 40 benteng yang tersebar di Maluku Utara, namun keberadaannya yang masih dijaga di tengah kawasan industri menjadikannya istimewa.

“Melestarikan situs cagar budaya di kawasan pertambangan ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam menjalankan pertambangan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan,” Tonny menegaskan.

Langkah Harita Nickel ini menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dan pelestarian situs bersejarah dapat berjalan beriringan. Di tengah ambisi besar Indonesia menjadi pemain kunci dalam industri nikel global, kisah Benteng De Brill di Pulau Obi menjadi pengingat penting bahwa kemajuan masa depan tetap berpijak pada jejak-jejak peradaban yang membentuk identitas bangsa.