(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

Alih Teknologi di Harita Nickel Dorong Kemandirian Karyawan Lokal

Kategori

:
Insan Harita.

21 November 2025 | media

detail

Alih pengetahuan dan teknologi di Harita Nickel bukan sekadar program di atas kertas. Melalui kolaborasi erat antara Tenaga Kerja Asing (TKA) dan Tenaga Kerja Indonesia (TKI), karyawan lokal kini kian mandiri dan memegang peran strategis dalam pengoperasian smelter di Site Pulau Obi. 

Di ruang kontrol, mereka saling bertukar pengetahuan soal pengoperasian tungku. Sementara di area produksi, karyawan lokal semakin percaya diri melakukan pekerjaannya tanpa harus menunggu arahan dari TKA. Dari rutinitas sederhana inilah, transfer teknologi di Harita Nickel menemukan bentuk nyatanya.

Menurut Li Shi Zhong, Superintendent Produksi PT Halmahera Jaya Feronikel (HJF), proses transfer pengetahuan dilakukan langsung di lapangan, mulai dari lini kerja paling teknis. “Misalnya di lantai lima, bagian pasta elektroda, karyawan lokal harus memahami konsep penting seperti sistem suspensi serta cara mengatur tinggi elektroda agar proses peleburan tetap stabil,” jelasnya.

Li Shi Zong, Superintendent Produksi PT HJF, tengah memberikan arahan teknis kepada karyawan lokal di area produksi.

Selain penguasaan teknis, karyawan lokal juga dilatih melakukan pengukuran harian, menjaga kebersihan area kerja, hingga menyusun laporan operasional. Di bagian pengolahan material pun, pembinaan dilakukan secara intensif. Karyawan lokal diajarkan mengenali kondisi permukaan material, mengendalikan tekanan negatif, menentukan jumlah material yang harus dikeluarkan setiap jam, serta mengatur aliran vertikal di tungku. Semua itu dijalankan agar tenaga kerja lokal benar-benar menguasai setiap aspek teknis operasional smelter.

“Pekerjaan seperti tapping besi dan pengeluaran slag atau terak nikel yang dulu hanya bisa dilakukan pekerja Tiongkok, sekarang sepenuhnya juga sudah dijalankan oleh karyawan lokal,” tuturnya. 

Ia pun menambahkan bahwa kerja sama antar operator di lapangan juga semakin solid. “Bahkan untuk operator crane dan operator inspeksi kalsin, mereka sudah bisa berkoordinasi dan bekerja tanpa pendampingan dari pekerja asing langsung,” lanjut Li.

Kemajuan tersebut, kata Li, juga dipengaruhi oleh kemampuan adaptasi cepat karyawan lokal dalam berkomunikasi. Jika sebelumnya komunikasi harus dibantu penerjemah, sekarang karyawan lokal bisa berinteraksi langsung dalam bahasa Mandarin. Menurut Li kondisi ini membuat alur kerja menjadi jauh lebih efisien. 

“Di control room misalnya, satu karyawan Tiongkok kini bisa mengawasi dua tungku sekaligus, sementara seluruh operatornya dijalankan oleh karyawan lokal. Kami hanya memeriksa data dan laporan akhir,” jelasnya.

Perubahan juga tampak pada jumlah tenaga kerja asing yang semakin berkurang seiring dengan telah berjalannya alih teknologi. “Sebelumnya, jumlah karyawan Tiongkok di area ini mencapai lebih dari 300 orang. Sekarang tinggal sekitar 70-an, dan sebagian lagi akan dialihkan. Hampir tidak ada lagi perekrutan karyawan Tiongkok, karena fokusnya kini adalah merekrut dan melatih tenaga kerja lokal,” Li menegaskan.

Karyawan lokal menyimak penjelasan teknis dari tenaga ahli untuk memperdalam pemahaman tentang prosedur kerja.

Cerita dari Hirawati, staf produksi asal Makassar, menjadi bukti nyata hasil transfer pengetahuan ini. Lulusan program Management Trainee, ia kini dipercaya bekerja di Central Control Room setelah hampir tiga tahun belajar lintas budaya. “Walaupun saya hanya berbekal ilmu dan pengalaman yang minim, tapi lewat bimbingan rekan kerja di lapangan, saya kini lebih mandiri dan mampu berkomunikasi langsung dengan TKA,” tuturnya.

Bagi Ira, kemampuan berbahasa Mandarin justru menjadi titik balik penting dalam pekerjaannya. “Awalnya sama sekali tidak tahu, tapi karena setiap hari berinteraksi, akhirnya bisa belajar otodidak. Sekarang komunikasi lebih mudah dan pekerjaan jadi lebih lancar,” katanya.

Kolaborasi yang terbangun setiap hari antara TKA dan TKI membuktikan bahwa transfer teknologi di Harita Nickel bukan sekadar program di atas kertas. Dari lapangan hingga ruang kontrol, hasilnya sudah nyata terlihat: karyawan Indonesia makin mandiri, sekaligus siap mengambil peran lebih besar dalam operasional smelter.