(function(w,d,s,l,i){w[l]=w[l]||[];w[l].push({'gtm.start': new Date().getTime(),event:'gtm.js'});var f=d.getElementsByTagName(s)[0], j=d.createElement(s),dl=l!='dataLayer'?'&l='+l:'';j.async=true;j.src= 'https://www.googletagmanager.com/gtm.js?id='+i+dl;f.parentNode.insertBefore(j,f); })(window,document,'script','dataLayer','GTM-MZ6PLDCC'); !function(f,b,e,v,n,t,s) {if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod? n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)}; if(!f._fbq)f._fbq=n;n.push=n;n.loaded=!0;n.version='2.0'; n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0; t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0]; s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window, document,'script', 'https://connect.facebook.net/en_US/fbevents.js'); fbq('init', '1536990446882598'); fbq('track', 'PageView');

5 Kunci Sukses Membangun Budaya Continuous Improvement di Harita Nickel

Kategori

:
Sorotan.

10 November 2025 | media

detail

Dalam dunia kerja yang dinamis, kemampuan untuk beradaptasi dan berinovasi menjadi kunci agar organisasi tetap relevan dan kompetitif. Di Harita Nickel, semangat ini tumbuh lewat Harita Continuous Improvement (HCI), sebuah ajang tahunan yang mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan di seluruh unit bisnis.

Sebagai bagian dari persiapan HCI 2025, Harita Nickel mengadakan pelatihan “Creating Continuous Improvement Mindset” bersama SSCX International pada 6–7 November 2025. Pelatihan ini membekali karyawan dengan pola pikir terbuka dan kolaboratif agar mampu menjadi fasilitator internal yang mendorong inisiatif perbaikan di unit kerja masing-masing.

“Kami ingin setiap karyawan memiliki semangat untuk selalu mencari cara menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan pola pikir perbaikan berkelanjutan, efisiensi dan inovasi dapat tumbuh secara alami di seluruh lini,” ujar Achmad Halim, Operational Excellence Specialist Harita Nickel.

Lalu, seperti apa cara membangun continuous improvement mindset di tempat kerja? Berikut lima prinsip dasar yang menjadi pondasinya.

1. Berpikir Menyeluruh dan Tidak Terkotak

Sering kali, kita hanya fokus pada pekerjaan di divisi sendiri tanpa memahami kaitannya dengan proses yang lebih besar. Padahal, setiap bagian dalam organisasi saling terhubung.

Melalui simulasi interaktif Sigma Station Simulation, peserta pelatihan belajar melihat alur proses dari hulu ke hilir dan memahami bagaimana keputusan kecil di satu titik bisa berdampak pada hasil akhir. Dengan berpikir menyeluruh (end-to-end thinking), setiap orang bisa berkontribusi untuk memperkuat efisiensi secara keseluruhan.

2. Selalu Mencari Proses yang Lebih Baik

Continuous improvement bukan proyek sesaat, melainkan kebiasaan sehari-hari untuk terus bertanya: “Bisakah ini dilakukan lebih baik?” Melalui pendekatan Lean Six Sigma, peserta belajar merampingkan proses, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan kualitas dengan metode Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control (DMAIC).

“Apa pun industrinya, perbaikan harus berangkat dari kebutuhan pelanggan agar inovasi tetap relevan,” ujar Aulia Djati, Konsultan dan Trainer SSCX International.

3. Menjadikan Masalah sebagai Peluang

Alih-alih melihat kendala sebagai hambatan, pelatihan ini mengajak peserta untuk menjadikannya sumber inspirasi. Setiap masalah adalah sinyal bahwa ada ruang untuk perbaikan.

Peserta belajar mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah dan mengubahnya menjadi peluang inovasi. Dari sini, muncul mindset baru: masalah bukan sesuatu yang ditakuti, tetapi pintu menuju kemajuan.

4. Fokus pada Proses, Bukan Menyalahkan Orang

Dalam budaya continuous improvement, fokusnya bukan mencari siapa yang salah, tapi memperbaiki sistem agar kesalahan tidak terulang. Dengan menggeser fokus dari individu ke proses, setiap tim bisa bekerja lebih terbuka, saling belajar, dan berani bereksperimen tanpa takut disalahkan.

5. Berani Mencoba tanpa Harus Sempurna Sejak Awal

Perbaikan berkelanjutan dimulai dari langkah kecil. Tidak perlu menunggu sempurna untuk memulai, yang lebih penting adalah kemauan untuk terus memperbaiki diri.

“Pelatihan ini membentuk pola pikir sistematis dan berorientasi perbaikan. Kami merasa didukung penuh karena diberi kesempatan untuk berkontribusi lebih besar,” ujar Abdullah Abiyyu, peserta dari PT Cipta Kemakmuran Mitra (CKM).


Melalui pelatihan ini, Harita Nickel menegaskan komitmennya untuk membangun budaya kerja yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Karena di tengah dunia yang terus berubah, keberhasilan sejati bukan milik mereka yang sempurna, tetapi mereka yang tidak pernah berhenti memperbaiki diri.